Penembakan Gas Air Mata. Foto: list25.com
"Polisi tidak melepas anjing mereka tetapi membiarkan mereka merobek pakaiannya," ujar Hector Chumpitaz.
"Polisi kami sendiri menendangnya dan memukulinya seolah-olah dia adalah musuh. Inilah yang membangkitkan kemarahan semua orang, termasuk kemarahan saya" kata Jose Salas salah satu penggemar di Estadio Nacional hari itu.
Massa mulai melempar berbagai benda ke arah polisi, suporter juga berusaha menyerbu lapangan. Banyak pula Para suporter berusaha meninggalkan stadion dengan menuruni tangga menuju pintu gerbang keluar.
Namun, ketika sesampainya mereka disana, ternyata gerbang keluar ditutup dan mereka pun mencoba berbalik untuk kembali ke tribun. Para petugas mulai menembakkan tabung gas air mata ke kerumunan untuk mencegah lebih banyak penonton menyerbu lapangan permainan.
Hal itu mengakibatkan eksodus massal pun terjadi. Para penonton dari tribun berlari menuju terowongan menuju gerbang keluar untuk keluar stadion. Tetapi mereka hanya berlari ke penonton sebelumnya yang telah menemukan gerbang keluar yang terkunci.
Fakta juga menemukan bahwa gerbang di pintu keluar terbuat dari baja bergelombang yang tidak mungkin mudah dirobohkan, bukan gerbang standar yang digunakan di sebagian besar stadion sepak bola.
Mereka yang berada di bagian bawah tangga tidak dapat keluar dari gempuran penonton yang berlari dari tribun. Mereka terjepit dan berdesakan di daun jendela tanpa jalan keluar. Banyak kematian disebabkan sesak napas akibat terjepit dan berdesak-desakan saat berusaha untuk keluar stadion.
Kisah tragis tidak hanya berhenti ketika begitu pintu gerbang terbuka. Mereka yang selamat dari pintu gerbang terbuka mulai terlibat dalam kerusuhan dengan petugas bersenjata di jalanan. Hakim setempat yang menyelidiki peristiwa tersebut memutuskan bahwa mereka yang tewas akibat tembakan tidak dimasukkan dalam penghitungan resmi kematian.
Dalam keterangan resmi jumlah kematian adalah 328 orang tetapi kemungkinan lebih banyak, karena laporan kematian tentang orang-orang yang terbunuh oleh luka tembak. Pascakerusuhan tersebut, Pemerintah Peru mengumumkan masa berkabung selama tujuh hari bagi mereka yang telah meninggal.
Bendera nasional dikibarkan setengah tiang di seluruh negeri. Kerusuhan ini juga menimbulkan putusan untuk menurunkan kapasitas Estadio Nacional sekitar 11.000 menjadi 42.000 dalam beberapa kesempatan. (sgt)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




