Suasana acara Pra Muktamar NU ke-33 di Asrama Haji Sudiang Makassar. Suasana berubah panas ketika panitia menyosialisasikan Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Foto: harian fajar
Surat pernyataan sikap 10 PWNU itu kemudian diserahkan kepada Ketua Steering Committee Muktamar NU ke-33 H. Slamet Effendi Yusuf. Tapi, menurut Nasruddin Suyuti, Slamet Effendi Yusuf masih sempat mempersoalkan surat pernyataan sikap tersebut karena tak ada stempelnya. ”Soal stempel kan tak perlu dimasalahkan. Substansinya 10 PWNU menolak Ahwa diberlakukan dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang,” kata Nasruddin Suyuti.
Kegagalan Panitia Muktamar NU ke-33 di Makassar ini berarti kegagalan kedua dalam menyosialisasikan AHWA. Sebelumnya, dalam Pra-Muktamar bertema “Penguatan NU melalui Sistem Ahlul Halli Wal Aqdi” di Pondok Pesantren Al Mansyuriyyah, Bonder, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), juga gagal total. Peserta acara itu menolak sistem AHWA versi PBNU yang hanya mewakilkan 9 kiai untuk memilih Rais Am Syuriah PBNU diterapkan dalam Muktamar ke-33 di Jombang.
“Ya gagal total. Karena AHWA kan sudah ditolak di Munas-Konbes kok masih dibahas lagi,” kata KH Ir Mahfudz, MM, Mustasyar PWNU Nusa Tenggara Barat (NTB) kepada BANGSAONLINE.com saat itu. Mantan Ketua Tanfidziah PWNU NTB ini termasuk perserta acara Pra Muktamar yang aktif memonitor perdebatan soal AHWA.
Menurut Nasruddin Suyuti, sebenarnya bukan AHWA yang ditolak, tapi pelaksanaan Ahwa dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang. ”AHWA-nya baik. Tapi kenapa harus buru-buru. Kan masih perlu disosialisasikan dulu. Jadi perlu waktu panjang. Lagi pula sistem yang sekarang ini kan juga AHWA,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa Munas dan Konbes NU belum pernah memutuskan AHWA. ”Saya sendiri datang dalam Munas dan Konbes,” katanya. Karena itu ia heran kok sekarang tiba-tiba disosialisasikan dan seolah sudah diputuskan Munas dan Konbes.
Pembukaan Pra Muktamar NU di Makassar ini dihadiri jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU. Selain itu juga dihadiri Rais Syuriyah NU Sulsel Anregurutta KH Sanusi Baco, Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang KH Salahudin Wahid (Gus Dur) yang adik kandung Gus Dur, Rais Syuriyah NU Jawa Timur KH Miftachul Akhyar, Rektor Universitas Islam Makassar Dr. Majdah M. Zain yang juga Ketua LPTNU Sulsel, Kakanwil Sulsel H Abd Wahid Thahir yang juga Ketua NU Makassar, para Ketua Lembaga/Lajnah dan Badan Otonom NU Sulsel serta ribuan warga Nahdliyin. (tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




