Sapi milik warga di Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, yang mati diduga terpapar PMK. Foto: MUTAMMIM/BANGSAONLINE
SAMPANG, BANGSAONLINE.com - Data sebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Sampang belum sepenuhnya valid. Sebab, masih banyak sapi milik peternak di pedesaan yang tidak terdata.
Seperti di Desa Daleman dan Gunung Eleh. Salah satu peternak dari Dusun Kloykoy, Desa Daleman, Kecamatan Kedungdung, Moh Sya'ir, mengatakan bahwa sapi miliknya yang mati tidak terdaftar di sebaran PMK DPKP Sampang.
BACA JUGA:
- Diskopimdag Sebut Konflik Timur Tengah Belum Pengaruhi Harga Pangan di Sampang
- Bukan karena Konflik Timteng, Pemkab Sampang Sebut Stok LPG Dipengaruhi Permintaan Tinggi
- Konflik Timur Tengah Masih Panas, Disnaker Sampang Sebut Pengiriman Pekerja Migran Tetap Berjalan
- Diskominfo dan Dinsos Sampang Kolaborasi Siapkan Sosialisasi Larangan Medsos Anak di Bawah 16 Tahun
"Sapi yang saya pelihara ini mengalami kelumpuhan, tidak mau makan dan mengeluarkan lendir hingga akhirnya mati. Padahal, saya sudah melapor ke tim kesehatan hewan," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (5/7/2022).
Ia memanggil tim kesehatan hewan untuk melakukan penanganan medis kepada ternaknya yang sedang hamil besar dan tidak bisa melahirkan.
"Mendatangkan tim kesehatan itu untuk dibantu proses mengeluarkan induk sapi, sekaligus melaporkan keadaan sapi karena mengarah ke kriteria PMK," tuturnya.
Selang lima hari setelah petugas tiba, tidak ada penanganan lanjutan meski keadaan sapinya cenderung terpapar PMK.
"Waktu saya mendatangkan tim kesehatan saya bayar Rp300 ribu, tapi sayangnya tidak ada penanganan kelanjutan dari tim kesehatan," ungkapnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




