Kondisi penutup proyek drainase di Balongbendo Sidoarjo. Foto: YUDI EKO PURNOMO/BANGSAONLINE
Ia juga menjawab soal pemilihan gandar 5 ton. "Gandar kita itu hanya 5 ton, nggak besar. Peruntukannya memang bukan untuk (parkir) mobil-mobil yang berat. Nggak boleh mobil itu parkir sampai ke bahu (jalan)," tuturnya.
Pejabat yang sebelumnya membawahi wilayah Gresik ini mengungkapkan jika fungsi kendaraan bukan untuk di bahu jalan. "Sumbu jalan nasional kita 10 ton, tapi bukan untuk di parit," imbuhnya.
Merlan mengungkapkan cara agar gandar yang dipakai tetap bertahan. ''Cara menjaga agar tidak rusak ya stakeholder yang lain yang menjaga, itu kasih rambu atau apa. Karena nggak boleh mobil-mobil parkir. Parkir mereka di rest area atau di mana. Jangan sembarangan karena spek kita hanya untuk gandar lima ton," paparnya.
Begitu pula dengan banyaknya lubang galian. "Nggak-nggak nanti kan pasti ada ouletnya. Itu kan masih dalam tahap pengerjaannya pasti ada lanjutannya itu. (Lubang) itu apakah nanti dia menampung air atau keluar. Kalau keluar air jelas nanti auletnya kemana," ucap Merlan.
"Itu belum sempurna, belum tuntas. Kan u-dicht kita panjang juga, sekarang banyak bermasalah utilitas. Karena terhambat kabel kabel bawah tanah, pipa gas. Nanti semuanya jelas ujung pembuatan air pasti jelas kemana. Tidak sejorok itu tuh," paparnya menambahkan.
Ia juga menjawab ketinggian saluran air di daerah Bakalan. "Nanti kan ada peninggian aspal, ada rehab mayor sampai 15 cm. Ada tiga lapis aspal. Kalau mendesak ada lubang (di u-ditch) agar saluran air Suling Gading, nanti saya cek ini. Nanti saya survei kalau ada genangan air akan saya suruh buatkan lubang ini. Ada pengawasnya, untuk kemiringan air ditembak dulu larinya air kemana. Kalau tidak sesuai aturan lagi pasti kebongkar," Pungkasnya. (yep/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




