Jelang Muktamar NU, Sekjen Baguss Ingatkan Kembali 6 Pesan Gus Sholah untuk Menjaga NU

Jelang Muktamar NU, Sekjen Baguss Ingatkan Kembali 6 Pesan Gus Sholah untuk Menjaga NU Mohammad Yusuf Hidayat.

PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Menjelang ke-34, Sekretaris Jenderal Barisan Gus dan Santri (Baguss), mengingatkan kembali enam pesan Gus Sholah (Salahuddin Wahid) untuk tetap menjaga marwah NU.

"NU bukan organisasi politik praktis, jangan ditarik-tarik untuk kepentingan politik," kata Mohammad Yusuf Hidayat atau Cak Yusup, mengawali pembicaraan pada BANGSAONLINE.com melalui telepon selularnya, Sabtu (16/10/2021).

Saat ini, sudah muncul nama-nama calon Ketua baik di media sosial yang diklaim melalui hasil survei. Yang paling santer disebut ialah dan Prof. Dr. KH Said Aqil. Keduanya sama-sama populer dan dekat dengan mendiang KH. Abdurahman Wahid. Mereka juga menddapatkan dukungan dari sejumlah pengurus NU maupun kiai sepuh.

"Memang dukungan Kiai Said masih sangat kuat di banyak daerah, meski banyak tim kunci pemenangan beliau pada Muktamar Jombang yang kini sudah tidak lagi bersama beliau," ujar Yusuf.

Sedangkan dari KH. Yahya Cholil Tasquf, mantan jubir Presiden KH. Abdurrahman Wahid, menurut Yusuf, kabarnya sudah mendapatkan dukungan penuh dari pengurus NU Jatim dan Jateng. Bahkan para sesepuh NU keduanya sama-sama kuat dan siap membikin kejutan.

Setiap akan selalu menarik mata orang banyak, tentu saja berkaitan dengan posisi ketua . NU yang beridiri pada tahun 1926 ini, kini sudah tumbuh menjadi ormas besar. Cabangnya merata di Indonesia bahkan di sejumlah negara.

"NU selain memiliki perguruan tinggi maupun rumah sakit, NU kini juga memiliki kader-kader milenial potensial dalam berbagai bidang. Misalnya dalam bidang intelektual dari pesantren kini muncul sosok Gus Baha Rembang, Gus Kautsar Ploso (Kediri), Gus Reza intelektual, Gus Awis Rejoso, dan lainnya," ujar dia.

Yusuf berharap ke-34 di Lampung nantinya dapat berlangsung penuh martabat. Tidak seperti dibandingkan Muktamar Makassar dan Jombang yang banyak masalah.

"Perbedaan pendapat dan pilihan dalam organisasi NU sudah biasa dan bisa dicairkan dengan ger-geran," tuturnya dia.

Namun, pria kelahiran Madura ini mengingatkan agar persaingan merebut kursi nomor satu di NU tidak dilakukan dengan cara-cara yang tidak elok seperti kecurangan, suap, dan upaya menghalalkan segala cara lainnya. patut dijaga dari para aktor yang hanya memanfaatkan NU untuk kepentingan politik praktis.

Simak berita selengkapnya ...