Para santri laki-laki saat ikut membantu mengangkat material di lokasi pembangunan Ponpes Mifa yang baru.
KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Sedikitnya 70 santri Ponpes Mifa di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, nasibnya terkatung-katung karena pondok yang menjadi tempat mereka menimba ilmu mengalami konflik internal. Kini puluhan santri dari berbagai daerah, termasuk dari luar Jawa seperti NTT itu, harus terlantar.
Beruntung ada salah satu wali santri yang berbaik hati dengan mewakafkan sebagian tanah pekarangannya di Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri, untuk menampung mereka. Tentu saja mereka tidak bisa langsung menempati, karena masih harus dibangun terlebih dulu.
BACA JUGA:
- Sengketa Proyek Griya Keraton Sambirejo Berlanjut ke Arbitrase
- Ini Bantahan Dandim 0809 Kediri soal Viralnya Video Jual Beli Titik Koperasi Merah Putih
- Halaqah Keuangan Haji Kediri: Strategi BPKH Optimalkan Dana Jemaah dan Solusi Pangkas Antrean
- Wali Kota Kediri Berangkatkan 1.100 Pekerja Hadiri Peresmian Museum Marsinah di Nganjuk
KH. Ahyar Sya'roni, Pengasuh Ponpes Mifa, mengatakan membenarkan telah terjadi konflik internal di pondoknya, sehingga para santri harus mengalah.
"Kami beruntung ada salah satu wali santri yaitu Pak Haji Mahmud yang mewakafkan sebagian tanahnya untuk menampung para santri. Tapi karena yang diwakafkan masih berupa pekarangan, maka masih perlu waktu karena harus membangun dulu tempatnya," kata Kiai Ahyar Sya'roni, Senin (15/3).

Menurut Kiai Ahyar Sya'roni, tanah yang diwakafkan itu masih satu kecamatan, tepatnya di Desa Dukuh, Kecamatan Ngadiluwih. Tanah wakaf itu saat ini masih dalam proses pembangunan.
"Ini tadi sebagian santri laki-laki ikut membantu dengan mengangkut bahan material seperti batu bata dan batako. Sedangkan untuk membangun pondoknya sendiri melibatkan tukang bangunan," tambah Kiai Ahyar.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




