Senin, 01 Maret 2021 23:08

​Prof Rochmat Wahab: Kader NU Kritis Dimatikan, Sami’na Waatha’na Disalahartikan

Kamis, 11 Juni 2020 19:39 WIB
Editor: MMA
​Prof Rochmat Wahab: Kader NU Kritis Dimatikan, Sami’na Waatha’na Disalahartikan
Prof. Dr. KH. Rochmat Wahab. foto: UNY

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Prof. Dr. KH. Rochmat Wahab menilai bahwa kalimat sami’na waatha’na yang kini sangat populer di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU) cenderung disalahartikan. Menurut dia, sebagian kalangan beranggapan bahwa sami’na waatha’na (kami mendengar, kami taat) itu seolah tak boleh bersikap kritis.

Sami’na waatha’na itu itba’, bukan taqlid,” kata Prof Dr Rochmat Wahab kepada BANGSAONLINE.com, Kamis (11/6/2020).

Kiai Rochmat Wahab menyampaikan itu merespons tren budaya kritis yang berkembang di lingkungan NU, terutama anak-anak muda yang berlatar belakang perguruan tinggi.

Itba’ itu artinya mengikuti, tapi tahu rasionalitasnya, tahu alasannya. Sedang taqlid mengikuti tapi tidak tahu rasionalitasnya,” kata mantan Ketua Tanfidziah PWNU Yogyakarta itu.

Karena itu, tegas Prof Rochmat, sikap kritis tidak dilarang. Sebaliknya, justru harus ditumbuhkan lewat iklim yang sehat. “Orang yang kritis itu justru punya nilai di atas rata-rata orang lain, karena dia inovatif,” tegas mantan Ketua Forum Rektor Indonesia itu.

Karena itu, ia minta para elit NU struktural tidak phobi dan apriori terhadap munculnya kritik dari anak-anak muda NU. “Selama ini kalau ada kritik cenderung dimatikan, tidak diberi akses,” katanya.

Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu juga mengungkapkan bahwa kini era sudah berubah. Tradisi keilmuan dan intelektual NU tidak hanya berbasis di pondok pesantren, tapi juga di perguruan tinggi.

“Jadi sekarang basis keilmuan NU melebar. Karena itu pondok pesantren dan perguruan tinggi harus bersinergi,” harapnya. Karena itu ia minta para elit NU peduli terhadap kader NU yang kini tumbuh subur di lingkungan perguruan tinggi.

Ia menegaskan, kini banyak sekali kiai intelektual cerdas di lingkungan NU. Begitu juga kader NU yang bergelar doktor dan profesor.

Menurut dia, munculnya Gus Baha’ membuat kelompok Islam lain mengakui bahwa kader NU banyak yang mumpuni. “Padahal di lingkungan NU masih banyak sekali kiai-kiai muda lebih pintar dari Gus Baha’ tapi tidak atau belum muncul ke publik, karena tak diberi akses oleh elit NU,” tegas Kiai Rochmat Wahab. (MMA)

Dua Warga Kepulungan yang Terseret Banjir Bandang Ditemukan Tewas
Kamis, 04 Februari 2021 17:21 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Dua warga Desa Kepulungan Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, yang dilaporkan hilang akibat terseret derasnya arus banjir Rabu (3/2) kemarin, akhirnya ditemukan dalam kondisi tewas, Kamis (4/2) pagi. Korban adalah ...
Kamis, 07 Januari 2021 16:58 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Pamekasan dalam masa pandemi ini tetap bertekad memberikan wahana hiburan rekreasi sekaligus olahraga, terutama bagi anak-anak dan usia dini.Melalui kapasitas dan potensi...
Senin, 01 Maret 2021 08:13 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.COM – Ternyata banyak sekali putra Indonesia yang punya potensi unggul. Di berbagai bidang. Termasuk penemuan tes Covid-19. Dalam tulisan edisi Senin, 1 Maret 2021, ini Dahlan Iskan mengangkat tentang I-Nose, hasil p...
Senin, 22 Februari 2021 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*58. Warabbuka alghafuuru dzuu alrrahmati law yu-aakhidzuhum bimaa kasabuu la’ajjala lahumu al’adzaaba bal lahum maw’idun lan yajiduu min duunihi maw-ilaanDan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki kasih sayang. ...
Sabtu, 27 Februari 2021 11:53 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wono...