Rabu, 27 Mei 2020 03:14

Cara Abdul Muni, Warga Pamekasan Lolos dari Kejaran Massa di Wamena, Sembunyi di Plafon dan Sungai

Selasa, 08 Oktober 2019 21:28 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: Yeyen
Cara Abdul Muni, Warga Pamekasan Lolos dari Kejaran Massa di Wamena, Sembunyi di Plafon dan Sungai
Abdul Muni, warga Dusun Durbugen, Desa Bungbharuh, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan menceritakan pengalamannya dikejar massa saat kerusuhan Wamena.

PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com  - Sejumlah warga Pamekasan yang merantau ke Wamena sudah kembali kampung halaman. Di antara perantau asal Pamekasan yang pulang akibat kerusuhan di Wawena itu adalah Abdul Muni, warga Dusun Durbugen, Desa Bungbharuh, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Madura.

Ia merupakan salah satu korban kerusuhan Wamena yang berhasil lolos dari kejaran massa, meski harus mengalami luka bakar di lengannya.

Kini luka bakar itu membekas di bagian lengan kanannya sepanjang 40 sentimeter, juga di pelipis bagian sebelah kanan.

Abdul Muni yang ditemui wartawan di rumahnya, menceritakan kronologi ia bisa lolos dari peristiwa kerusuhan yang terjadi di Wamena pada 25 September 2019.

Saat itu pukul 09.00 WIT, ia sedang berada di dalam kios miliknya yang berada di Kampung Hom-Hom, Wamena, Kabupaten Jaya Wijaya, Provinsi Papua.

Tiba-tiba, sejumlah massa datang dengan membawa panah, parang, dan gergaji rantai (senso). Lalu massa menebang sejumlah pohon yang tumbuh di pinggir jalan Kampung Hom-Hom dan melakukan penutupan jalan dengan pohon yang sudah ditebang.

Bukan hanya itu saja, sejumlah massa tersebut juga membakar semua bangunan yang berada di Kampung Hom-Hom, sembari berteriak akan membunuh semua warga pendatang.

Mendengar teriakan itu, Abdul Muni langsung keluar dari dalam kiosnya bersama dengan temannya.

Ia juga tidak sempat membereskan barang-barang berharga yang berada di dalam kiosnya tersebut. Ketika dirinya keluar, tiba-tiba kios miliknya, sebagian sudah terbakar dan di luar banyak massa yang menunggu.

"Lalu saya bersama teman saya itu keluar dari dalam kios dan saya bilang ke massa itu kalau di dalam masih ada dua warga pendatang lagi," katanya, Selasa (8/10/19).

"Namun massa yang sudah kelihatan bringas itu justru bilang 'bunuh-bunuh'. Tanpa pikir panjang, saya langsung lari ke rumah sebelah yang belum dibakar," tuturnya.

"Saat itu saya langsung naik ke plafon rumah untuk bersembunyi dan tidak bisa turun karena di luar banyak massa," katanya.

Namun karena massa terus mencari sambil berteriak bunuh-bunuh, ia nekat melompat dari atas plafon rumah dengan tujuan ingin kabur dari kepungan massa.

Namun ketika hendak melompat, bagian lengan kanannya terkena percikan bensin dari massa yang ingin membakar rumah. Api pun ikut menyambar lengan dan pelipisnya

Akhirnya Abdul Muni dan temannya berhasil lolos dari kepungan massa. Dia dan temannya berhasil kabur dari rumah tersebut dengan cara membobol pagar di bagian belakang rumah, dengan keadaan tangannya terbakar.

"Saya langsung kabur ke hutan bersama teman saya, walaupun kaki saya luka terkena pecahan kaca. Karena masih ada yang mengejar, saya melompat ke sungai. Saat saya naik lagi, tiba-tiba teman saya sudah tidak ada. Saya juga tidak tahu dia lari ke mana," ujarnya sambil menerawang mengingat kejadian yang mengerikan tersebut.

"Saya sembunyi di semak-semak. Ketika situasi sudah aman, pada pukul 16.00 WIT saya keluar dan alhamdulillah dijemput anggota TNI dan kemudian langsung dibawa ke Kodim untuk diamankan," ungkapnya.

Melihat kondisinya yang terluka, pihak TNI langsung membawa dirinya ke RSUD setempat. "Setelah situasi mulai aman, saya dibawa mengungsi lagi di Kodim Wamena selama 5 hari, selanjutnya mengungsi di Yonif 751/R di Sentani Jayapura selama 2 hari," ungkapnya

Lalu, Kamis, 3 Oktober 2019 pukul 05.00 WIB, Abdul Muni dibawa pulang dengan menggunakan Pesawat Hercules TNI-AU dan mendarat di Lanud Malang Pukul 16.00 WIB.

"Ketika sampai di Malang, saya mampir di rumah saudara saya dan tanggal 4 Oktober 2019 pukul 15.00 WIB saya tiba di rumah," tuturnya.

Selanjutnya, Abdul Muni menceritakan bahwa semua harta bendanya yang ada di Kampung Hom-Hom, Wamena, habis terbakar.

"Saya tinggal di Wamena kurang lebih sekitar 2 tahun, bekerja sebagai pedagang. Tapi sebelum saya ke Wamena, saya sempat bekerja di Kalimantan juga sebagai pedagang," ucapnya.

Saat ini, Abdul Muni mengaku masih trauma berat atas insiden kerusuhan di Wamena. Sebab pada saat kerusuhan, dirinya dikejar dan diancam akan dibunuh oleh warga pribumi.

"Warga Pamekasan lainnya masih ada yang di Wamena, tapi saya tidak tahu jumlah pastinya," pungkasnya. (yen/rev)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Sabtu, 23 Mei 2020 12:36 WIB
Oleh: Firman Syah AliSaat ini gelar Habib sedang populer di Indonesia karena beberapa peristiwa. Diantaranya Insiden Habib Umar Abdullah Assegaf Bangil dengan mobil sedan mewah Nopol N 1 B diduga melanggar peraturan pemerintah tentang pembatasan sosi...
Selasa, 26 Mei 2020 23:54 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*22. Sayaquuluuna tsalaatsatun raabi’uhum kalbuhum wayaquuluuna khamsatun saadisuhum kalbuhum rajman bialghaybi wayaquuluuna sab’atun watsaaminuhum kalbuhum qul rabbii a’lamu bi’iddatihim maa ya’lamuhum...
Rabu, 13 Mei 2020 11:23 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <&...