Kamis, 24 September 2020 04:33

KHM Yusuf Hasyim: Film Ibarat Gelas: Kini Tebuireng Bikin Film Hadratussyaikh dan Ahmad Dahlan (3)

Sabtu, 13 Juli 2019 16:51 WIB
Editor: Em Mas'ud Adnan
Wartawan: tim
KHM Yusuf Hasyim: Film Ibarat Gelas: Kini Tebuireng Bikin Film Hadratussyaikh dan Ahmad Dahlan (3)
Poster film Sembilan Wali (Walisongo) yang melibatkan KHM Yusuf Hasyim. Foto: Wikipedia

JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Pesantren Tebuireng memang sering kontroversial dalam melakukan pembaharuan pendidikan Islam. Namun kontroversi itu kemudian justru banyak ditiru bahkan jadi “contoh model” yang secara massif ditiru dan praktikkan pesantren-pesantren lain.

Sejarah mencatat, tahun 70-an dunia pesantren masih menganggap tabu menghadirkan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di pondok pesantren. Saat itu lembaga pendidikan formal pesantren identik dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

Pengasuh Pesantren Tebuireng saat itu KHM Yusuf Hasyim mengambil langkah berani. Ya, Pak Ud – panggilan akrab KHM Yusuf Hasyim – pada 1975 mendirikan SMP dan SMA di Tebuireng dengan memberi nama SMP dan SMA A Wahid Hasyim, nama kakak tertua Pak Ud, yang tak lain, putra pertama Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari. Kiai A Wahid Hasyim juga ayahanda KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Gus Sholah.

Bagaimana respons masyarakat terutama para kiai pimpinan pesantren?

Seperti sudah diduga, sindiran dan kecaman mengalir. Saya masih ingat ketika kiai-kiai menyindir Pak Ud selaku pengasuh pesantren Tebuireng. Mereka menilai Pak Ud telah melakukan pendangkalan ilmu agama di pesantren.

Namun sejarah membuktikan, kini mindset para kiai pesantren berbalik 180 derajat. Sekarang hampir semua pesantren mendirikan SMP, SMA, SMK dan lembaga pendidikan lainnya.

Begitu juga soal film. Pada tahun 80-an hampir semua kiai mengharamkan nonton film, apalagi memproduksi film. Tapi lagi-lagi Pak Ud melawan arus. Pak Ud menerima tawaran main film bertitel “Sembilan Wali” (Wali Songo) pada 1985.

Apa alasan Pak Ud menerima tawaran jadi “figur wali” dalam film itu? “Film itu ibarat gelas. Tergantung isinya,” kata Pak Ud penuh keyakinan. Artinya, kalau gelas itu diisi racun, maka akan mematikan, tapi kalau diisi madu, akan menyehatkan.

Film “Wali Songo” itu disutradarai Djun Saptohadi. Dalam film yang diproduseri Ram Soraya itu Pak Ud berperan sebagai Syaikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Film ini bercerita tentang dakwah Wali Songo di tanah Jawa dengan latar belakang pemerintahan (kerajaan) Majapahit yang mulai suram.

Tapi sayang dalam film yang naskahnya ditulis H Alim Bachtiar itu Pak Ud ditampilkan hanya dalam beberapa menit. Padahal dalam promo baliho, wajah Pak Ud yang bersorban itu paling besar dan menonjol. Bahkan santri-santri senior Tebuireng yang dilibatkan dalam shoting film tersebut hanya terlihat dalam sekejap.

Tentu banyak penonton kecewa, karena Pak Ud hanya dijadikan figur promo. Padahal publik umumnya ingin menonton figur Pak Ud yang kharismatik. Meski demikian gaung film ini luar biasa pada tahun 80-an itu. Maklum, selain penuh kontroversi tentang keterlibatan seorang kiai dalam film tersebut juga dalam poster itu foto Kiai Yusuf Hasyim dipampang secara menyolok dan paling besar di antara deretan pemeran walisongo lainnya.

Jadi jelas, film “Jejak Langkah 2 Ulama” yang diproduksi Pesantren Tebuireng sejatinya “kesinambungan kultural” dari lompatan besar kebudayaan pesantren, terutama pesantren yang kini diasuh Gus Sholah ini. Bahkan jauh sebelum Kiai Yusuf Hasyim, juga muncul alumni Pesantren Tebuireng yang eksis sebagai sutradara film. Namanya Abnar Romli, singkatan dari Abu Nawar Romli.

Seniman asal Pakembaran Slawi Jawa Tengah itu telah menyutradarai puluhan film pada tahun 70-an. Antara lain: Babat Tanah Leluhur, Mayat Hidup, Donat Pahlawan Pandir, Setitik Noda, Batas Impian dan banyak lagi.

Dalam curriculum vitaenya, Abnar Romli disebut santri Pesantren Seblak Jombang. Letak Pesantren Seblak sekitar 300 meter ke arah barat Pesantren Tebuireng. Pesantren Seblak didirikan oleh KH Ma’shum Ali atas perintah Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy’ari untuk menampung santri putri. Kiai Ma’shum Ali adalah santri generasi awal Hadratussyaikh yang kemudian diambil menantu. Kiai Ma’shum Ali dinikahkan dengan Nyai Khoiriyah, putri pertama Hadratusyaikh. Kiai Ma’shum Ali sendiri cucu KH Abdul Jabbar, pendiri Pesantren Maskumambang Gresik Jawa Timur. 

Kakak kandung KH Adlan Ali (pendiri Pesantren Walisongo Cukir Jombang) ini selain dikenal sebagai ahli falak dan hisab juga pengarang Kitab Al- Amtsilah at-Tashrifiyyah (Sharaf) yang sangat populer di dunia pesantren.

Karena itu tidak heran jika kini banyak santri Tebuireng kreatif dan produktif, baik sebagai penulis, pengarang, wartawan, sutradara maupun kreator budaya lainnya. Barakallah. (em mas’ud adnan/habis)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Minggu, 20 September 2020 21:35 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Banyuwangi banyak memiliki pantai cantik yang mempesona dengan keindahannya. Pantai yang bisa memikat para traveler datang di bumi sunrise of java ini.Tetapi bukan hanya pantai cantik saja yang menarik wisatawan mancan...
Kamis, 17 September 2020 20:43 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan---Sebuah video mencuat di media sosial. Viral. Isinya seorang perempuan desa. Madura. Menyanyikan lagu dangdut. Ciptaan Rhoma Irama.Penampilan perempuan itu sangat udik. Norak. Tanpa rias wajah. Bahkan video itu direkam d...
Selasa, 15 September 2020 13:32 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*30. inna alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati innaa laa nudhii’u ajra man ahsana ‘amalaanSungguh, mereka yang beriman dan mengerjakan kebajikan, Kami benar-benar tidak akan menyia-nyiakan pahala or...
Jumat, 11 September 2020 09:50 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&l...