Ilustrasi
Tentu saja tidak ada yang merespon karena itu mustahil.
Pada ayat ini, Tuhan memberi maklumat kepada dunia, bahwa sudah banyak bangsa yang dihajar setelah kaum nabi Nuh A.S. Kita tahu bahwa kaum Nabi Nuh A.S. dihabisi, ditenggelamkan dalam mahatsunami. Lalu, tidak puas dengan memberi maklumat, Tuhan juga menyatakan, bahwa Diri-Nya terus memelototi sekecil apapun dosa hamba-Nya. "wakafaa birabbika bidzunuubi ‘ibaadihi khabiiran bashiiraanwa kafa birabbik bidzunubi ibadih khabira bashira". Maksudnya jelas, bahwa agar jangan ada bangsa yang berbuat durhaka lagi, karena Tuhan maha mengetahui dan tidak segan-segan mengambil tindakan.
Warning ini ditujukan kepada penduduk Makkah yang membandel dan terus berbuat durhaka. Karena tidak percaya bahwa Muhammad SAW adalah utusan Tuhan, tidak percaya ancaman al-qur'an itu beneran, maka tercatat beberapa sikap arogan mereka yang menghina dan menantang. Sekali pernah Nabi SAW mendoakan mereka agar tertimpa kemiskinan mencekam.
Tuhan mengabulkan dengan menahan hujan agar tidak turun di daerah itu. Benar, terjadilah kekeringan ekstrem yang sangat memelaratkan mereka. Ternak mereka pada mati kelaparan dan bayi-bayi kurus kekurangan air susu. Gizi buruk melanda hebat melebihi tragedi buruk di Papua dan angka kematian bayi meningkat tajam tak terhindarkan.
Dukun paling sakti tak berkutik apa-apa, meski ritual paling ampuh sudah diterapkan. Akhirnya, tidak ada jalan lain kecuali sowan menghadap Muhammad Rasulullah SAW. Nabi mulia itu hanya menunduk diam dan berkata, andai tidak karena anak-anak kecil yang tidak berdosa, andai tidak karena binatang-binatang yang membutuhkan air, Allah SWT tidak sudi mengucurkan hujan. Ya, aku mohonkan kepada Tuhan. Hujan pun turun beruntun sangat memuaskan. Lalu, berimankah mereka? Tidak juga. Hanya yang diberi hidayat saja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




