Selasa, 23 Oktober 2018 00:35

Bupati Indartato Ajak Warga Pacitan Nguri-uri Budaya Adi Luhung

Senin, 30 Juli 2018 13:03 WIB
Editor: Abdurrahman Ubaidah
Wartawan: Yuniardi Sutondo
Bupati Indartato Ajak Warga Pacitan Nguri-uri Budaya Adi Luhung
Ritual Ceprotan di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo, Pacitan.

PACITAN, BANGSAONLINE.com - Bupati Pacitan Indartato mengajak semua masyarakat untuk selalu nguri-uri budaya luhur peninggalan nenek moyang. Sebab, banyak nilai-nilai ketauladanan yang diajarkan dari uraian sejarah tersebut.

Salah satunya budaya ceprotan, yang sampai detik ini masih terus dijaga dan dilestarikan masyarakat di Pacitan, khususnya di Desa Sekar, Kecamatan Donorojo.

"Jaga dan terus lestarikan budaya Adi luhung. Sebab banyak nilai-nilai ketauladanan yang indah dan layak diwariskan untuk anak cucu kita," terang Indartato saat mengikuti prosesi ceprotan di Desa Sekar, Minggu (30/7) kemarin.

Budaya ceprotan, konon ceritanya diilhami dari sebuah kisah seorang putri raja yang pergi meninggalkan kerajaan. Dia dikenal dengan nama Dewi Sekartaji. Menurut cerita beberapa tokoh sejarah di Pacitan, Dewi Sekartaji sengaja lari dari istana untuk berkelana mencari kekasihnya, Panji Asmorobangun.

"Di tengah pengembaraannya, Dewi Sekartaji sempat berhenti di sebuah tempat," ujar Ki Jolotundo, salah seorang pemerhati sejarah di Pacitan, Senin (30/7).

Di tempat peristirahatan itulah, sang Dewi bertemu dengan seseorang yang tengah membakar hutan. Dia adalah Ki Ghodeg. Lantaran merasa letih dan dahaga, Dewi Sekartaji meminta air kepada Ki Ghodeg. Lantaran di lokasi itu sangat gersang, tentu tak ada air. Ki Ghodeg lantas mencarikan kelapa muda untuk diberikan kepada sang Dewi.

"Seketika diminumlah air kelapa muda itu, namun tak sampai habis. Lantas sisa air kelapa itu oleh Ki Ghodeg disiramkan ke bebatuan sambil bersabda, 'Sang Dewi, air ini akan menjadi sumber air yang tak akan pernah kering, dan akan menjadi sumber kehidupan'. Sebagai lambang keabadian, sumber tersebut diberi nama Sekar," tutur Jolotundo, sekilas menceritakan sejarah ceprotan.

Lebih jauh, Jolotundo mengungkapkan, suatu hari tepatnya Senin Kliwon Bulan Longkang, Ki Ghodeg mengadakan ritual dengan menghadiahkan ayam panggang, kelapa muda, serta ubo rampe lainnya. Saat ritual berlangsung, sempat terdengar teriakan serta sorak-sorai peserta. Bahkan juga ada salah satu peserta yang mengambil panggang sesaji. Sontak peserta lainnya mengejar peserta tersebut dan melemparinya dengan bluluk atau kelapa muda yang juga diambilnya dari sesaji tersebut.

"Melihat fenomena itu, bersabdalah Ki Ghodeg bahwa setiap tahun di Desa Sekar, tepatnya pada hari Senin Kliwon Bulan Longkang, harus diperingati dengan ritual melempari orang yang membawa lari panggang sesaji dengan bluluk. Ritual itu sebagai simbol menghilangkan pengaruh buruk di desa tersebut. Sejak saat itulah setiap Bulan Longkang selalu diadakan kegiatan bersih desa dan ritual ceprotan sebagai simbol hari jadi desa tersebut," pungkasnya. (yun/dur)

Suparto Wijoyo
Rabu, 17 Oktober 2018 11:08 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*DARI Malang menuju Bekasi. Begitulah aksi KPK dalam melakukan gerakan senyap OTT yang melibatkan para bupati kedua daerah itu. Simbul para koruptor kian menjalar dari daerah ke daerah untuk merapatkan barisan sambung-meny...
Sabtu, 20 Oktober 2018 19:42 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .  ‘Asaa rabbukum an yarhamakum wa-in ‘udtum ‘udnaa waja’alnaa jahannama lilkaafiriina hashiiraan (8).Menjadi viral saat ada rombongan umrah menyanyikan lagu Ya Lal Wathan, termasuk yang memb...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Sabtu, 29 September 2018 09:57 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Kamis, 04 Oktober 2018 13:39 WIB
PACITAN, BANGSAONLINE.com - Gua Jenggung, begitulah nama yang diberikan kepada gua yang baru ditemukan di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan.Saat melihat keindahan stalaktit maupun stalagmit di dalam Gua Jenggung, laksana berlibur ke T...