GMBU dalam sautu kegiatan. foto: istimewa
"Sejak perubahan peraturan gubernur itu jumlah calon peserta didik yang kami bantu turun drastis sampai 80 anak saja," jelas Zaenuri.
Perubahan peraturan tersebut menghambat program yang dicanangkan oleh GMBU karena pada dasarnya Kota Surabaya sendiri sudah mampu memberikan sekolah gratis kepada warganya melalui dana APBD. Sampai sekarang GMBU masih mengaji kemungkinan yang dapat dilakukan untuk tetap menyekolahkan peserta didik baru di tingkat menengah atas.
Di bidang sosial, Wawasan Kebangsaan banyak mendapat tanggapan positif dari Karang Taruna dan Sekolah di Kota Surabaya. Wawasan yang diberikan melalui program ini berlandaskan empat pilar negara baik secara kognitif dan sikap sebagai warga Indonesia. Sebelum melakukan program ini, para anggota GMBU dibina dan dilatih untuk dapat memberikan materi dengan tepat.
"Pertama masuk di GMBU para anggota diberikan tantangan untuk langsung terjun di masyarakat, paling tidak memberikan wawasan kebangsaan kepada tetangga," tutur Zaenuri.
Program ini turut membantu para orang tua terhadap anak dan pemerintah kepada warganya dalam pembekalan dari pengaruh-pengaruh faham ekstremis yang tengah marak. "Apalagi saat ini merupakan zaman media sosial dan anak-anak lebih suka mengakses dunia maya daripada bertemu langsung, juga pengaruh terbesar melalui media sosial yang banyak dipakai anak-anak zaman sekarang." tambah Zaenuri.
Ahmad Zaenuri berharap dengan kehadiran GMBU dapat menjadi mitra kerja Kota Surabaya untuk melayani masyarakat yang membutuhkan bantuan di bidang sosial dan pendidikan. Selanjutnya, GMBU akan lebih melebarkan sayap untuk lebih dikenal masyarakat Kota Surabaya dengan program-program yang dapat membantu masyakarat. Baginya, sebagai mahasiswa asuh Kota Surabaya memiliki tanggung jawab yang tersirat, "paling tidak orang-orang terdekat kita baik tetangga maupun saudara kita, dapat bernasib sama dengan kita yang dapat bersekolah dan berkuliah". (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




