Terjemah Surat al-Ra’d: 29-30
29. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.
30. Demikianlah, Kami telah mengutus kamu pada suatu umat yang sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumnya, supaya kamu membacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Katakanlah: "Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya aku bertaubat."
Tafsir
Pada ayat sebelumnya desebutkan soal orang-orang yang dipilih Tuhan mendapat hidayah. Mereka adalah orang beriman dan aktif berdzikir “ al-ladzin amanu wa taqma’inn qulubuhum bi dziks Allah” (28). Ya, karena ada orang beriman yang aktif berdzikir dan ada yang tidak aktif berdzikir. Yang aktif berdzikir pasti lebih dekat, sehingga lebih dikenal Tuhan. Sama dengan teman yang sering berkomunikasi dengan anda, perhatian terhadap diri anada, maka anda pasti lebih mengenal dia dan menyayangi dibanding yang lain.
Ayat studi ini (29) sebagai penjelasan lanjutan, bahwa mereka juga beramal bagus sehingga kehidupannya bersih dan bagus “thuba lahum wa husn ma’ab”. Jiwanya tidak pernah dikalutkan dengan urusan keduniawian apapun, apalagi ambisi politik, karena dasar pemikirannya adalah ibadah, tulus dan memberi tanpa harap kembali. Memang ikhlas, tulus, hanya untuk Allah itu sulit, tapi tidak berarti tidak bisa dilakukan. Dan, janji Tuhan membalas orang yang tulus memberi itu nyata dan terbukti. Tidak perlu nunggu di akhirat nanti, di dunia juga acap kali terbayar, meski caranya tak pernah bisa kita duga dan waktunya tidak menentu. Ada yang kontan dan ada yang seenak Tuhan. Contoh soal ini amat banyak dan anda bisa membuktikan.
Sisi lain dari pesan ayat ini adalah tampilan bahasa. Ayat tersebut (29) menunjuk surga dengan bahasa “husnu ma’ab”, persinggahan yang baik. Dalam bait syair yang biasa dibaca pada acara shalawatan, baik oleh kawan-kawan ISHARI, Seni Hadrah atau terbangan ada doa memohon ampunan dan surga yang redaksinya sebagai berikut :
“Allahumm ighfir ly dzunuby: wa ij’alil jannah ilahy, ya Allah”. Begitu yang biasa kami dengar di kampung kami, baik pada acara terbangan maupun diba’aan. Terus terang penulis belum punya rujukan tertulis soal ini. Hanya merasa terganggu dengan redaksinya yang bagian kedua, yakni “wa ij’alil jannah ilahy, ya Allah”. Jika tulisan arabnya ditaqthi’ begini: “wa ij’al al-jannah ilahy, ya Allah” (jadikanlah surga, wahai Tuhanku, wahai Allah), maka salah, karena ada dua kekurangan poin pelengkap, sehingga kalam tidak sempurna difahami. Surga dijadikan untuk siapa dan sebagai apa?.
Jika tulisannya begini: ”wa ij’al Ly al-jannah ilahy, ya Allah” (jadikanlah suga untukku, wahai Tuhanku, wahai Allah), maka mendekati kebenaran. Ada dua alasan di sini. Pertama, memang surga sudah diminta untuk diri si peminta (Ly), tapi ”sebagai apa?. Di sini, masih dibutuhkan al-maf’ul bih pelengkap kalam, sesuai kebutuhan fi’il muata’addy (ij’al).Kedua, terdapat penumpukan nida’ al-jalalah, penyebutan nama Tuhan, sudah ada “ilahy”, masih ditambah “ya Allah”, belum lagi al-fa’il dari fi’il du’a, “ij’al”, hingga total berjumlah tiga. Ini pemborosan kalam, buruk dan tidak efektif. Ketiga, tidak sesuai huruf akhir pada bait syair. Bagian pertama bait diakhiri dengan huruf/kata “BY” (dzunuby), tapi bagian akhir dengan kata “Hy” (ilahy). Ini cacat dalam sastera. Sedangkang kata “Ya Allah” adalah tambahan nida’ atau seruan diluar bait.
Penulis memilih, kata “ilahy “ diganti dengan “ma’aby”, jadinya : Allahumm ighfir Ly dzunubi: wa ij’al Ly al-jannah ma’aby/ wa ij’al al-jannah ma’aby,ya Allah. ( Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosaku : dan jadikanlah surga sebagai persinggahanku). Ada tiga alasan pendukung : Pertama, melengkapi al-maf’ul bih lafah “ij’al”, sehingga semua kebutuhan fi’il muta’ddy tersebut terhadap obyeknya terpenuhi. Kedua, penyesuaian qafiyah, huruf akhir (By, Ma’aby) serasi dengan bunyi akhir kata pada potongan pertama (BY, dzunuby). Inilah kalam badi’ atau sastera ideal yang indah. Pilihan kata ini merujuk pada ayat studi di atas yang menunjuk surga sebagai “thuba lahum wa husnu ma’ab”. KH. Adlan Alie, mursyid thariqah dan guru besar al-Qur’an pesantren Tebuireng pernah menfatwakan begitu.Ketiga, dengan digantinya kata “ilahy” dengan “ ma’aby”, selain kalam menjadi sempurna, qafiyah menjadi serasi juga menghilangkan redunden atau penumpukan seru nida’ dalam bait pendek. Allah a’lam.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




