Dr KH A Busyro Karim M.Si, Bupati Sumenep.
SUMENEP, BANGSAONLINE.com - Kebebasan pers adalah semua dapat menyampaikan pendapat tanpa ada ancaman dari berbagai pihak. Kebebasan pers dapat memonitor kemajuan bangsa dan negara dengan cermat dan mudah diakses kepermukaan melalui media sosial.
Demikian disampaikan Bupati Sumenep Dr KH A. Busyro Karim M.Si saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (30/05).
BACA JUGA:
- Bupati Fauzi Pangkas Jam Kerja ASN Sumenep Selama Ramadhan 1447 H
- Inovasi Smart Farming Machida oleh Petani di Sumenep: Satu Pohon Melon Bisa Hasilkan 30 Buah
- ASN di Sumenep Wajib Kenakan Busana Khusus Selama 3 Hari saat Peringati Hari Santri Nasional 2025
- Bupati Sumenep Apresiasi Baznas Jatim yang Siapkan Bantuan Bagi Warga Terdampak Gempa
Menurut Bupati, media yang bagus itu menyajikan berita bernuansa solusi dari setiap persoalan yang ada. Salah satu contoh kasus Jenderal TNI jadi tersangka yang dimuat di HARIAN BANGSA, Sabtu (27/05), menurut dia sajian beritanya terkesan hanya sebuah kepentingan berita saja, tidak memberikan solusi.
"Seharusnya ada narasumber yang berbeda yang mengungkap tentang TNI dari sisi yang berbeda. Baik dari peristiwa yang terjadi, atau jalan keluar, apa yang harus dilakukan oleh TNI selanjutnya, tentu hal ini akan berdampak kepada pembaca dalam mengatasi masalah," saran dia.
"Kalau saya perhatikan, banyak media yang kurang memberikan solusi. Misalnya KPK menangkap pelaku korupsi. Di sini seharusnya ada narasumber yang berbeda, yang ahli pakar hukum, jadi berbicara tentang bagaimana supaya tidak terjadi korupsi dari sisi hukum dan lainnya," ulas Bupati.
Jadi, menurut Bupati, media itu harus responsif dari banyak persoalan dan memberikan solusi. Jika langkah itu yang dilakukan, maka, medianya akan dicari pembaca. “Kalau hanya menulis berita tanpa memberikan jalan keluar, saya pikir hanya kepentingan berita saja,” simpul Busyro.
"Satu contoh lagi, kasus Syiah di Sampang. Jangan hanya menyoroti persoalannya, tapi cari ulama-ulama besar untuk berkomentar tentang ilmu pengetahuan dan khazanah keagamaan, sehingga sajian yang ditampilkan bukan persoalan semata, tapi informasi yang memberi nilai pengetahuan di bidang agama," sambungnya.
“HARIAN BANGSA yang ciri khasnya dikenal koran NU yang banyak dibaca warga NU di Jawa Timur ini sangat eksis menyuarakan sajian bernuansa islami harus mampu memberikan informasi yang sifatnya memberikan solusi, bukan malah menghakimi atau memvonis orang bersalah tanpa memberikan jalan keluarnya,” tukasnya (fai/ros)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




