Minggu, 12 Juli 2020 00:07

Bojonegoro, Dulu Kabupaten Termiskin, Kini Pertumbuhan Ekonominya Tertinggi

Sabtu, 04 Februari 2017 11:46 WIB
Bojonegoro, Dulu Kabupaten Termiskin, Kini Pertumbuhan Ekonominya Tertinggi
Drs Suyoto MSi, Bupati Bojonegoro.

BOJONEGORO, BANGSAONLINE.com - Kabupaten seluas 2.307,06 kilometer persegi dengan 28 kecamatan, 11 kelurahan dan 419 desa itu, terus tumbuh menjadi wilayah strategis. Potensinya, juga istimewa. Mulai dari sektor pertambangan, pertanian, serta sejumlah sektor lainnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bojonegoro selama 2015, menduduki peringkat tertinggi di Jawa Timur dengan angka 12 persen. Bahkan pertumbuhan ekonomi Bojonegoro ini melebihi pertumbuhan ekonomi Jatim, bahkan nasional sekalipun.

Di periode itu, pertumbuhan ekonomi Jatim, hanya tumbuh 6,5 persen . Sedangkan nasional, tercatat 6,17 persen. Dari berbagai sektor, pertambangan masih memberi kontribusi terbesar. Blok Cepu misalnya. Versi Bank Idonesia, dari sektor ini saja, mampu menopang hingga 20 persen. Disusul sektor lainnya, seperti perdagangan, jasa, dan pertanian.

Belum lagi dari sisi pertumbuhan investasinya. Memang, tingginya pertumbuhan ekonomi di Bojonegoro, karena tersedianya sumber alam. Yang juga tak kalah penting, komitmen kuat dari kepala daerah.

Secara umum, sektor migas masih menjadi primadona bagi Bojonegoro. Namun sang bupati, Drs Suyoto MSi, tak mau terlena. Pria yang lebih akrab dengan sapaan Kang Yoto ini, terus mendongkrak pertumbuhan di sektor non migas, seperti; agro industri, industri dan sektor jasa. Hasilnya? “Alhamdulillah, tahun 2015 lalu sektor non migas tumbuh 5,9, di atas rata rata nasional maupun Jawa Timur," ujarnya menanggapi capaian itu.

Banyak kalangan menilai, bupati dua periode ini, piawai dalam melakukan pemerataan, terutama mengentas kemiskinan. Dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi ini, kemiskinan Bojonegoro turun. Tahun 2008 lalu, Bojonegoro yang di era kolonial menjadi daerah endemic poverty --- isitilah Pander sejarawan Australia yang menulis buku soal Bojonegoro--- dengan kemiskinan lebih dari 28 persen, tahun 2015 sudah berkurang lebih dari 50 persen. "Sementara indeks rasio, sekitar 0,24. Ini menunjukkan terjadi pemerataan kesejahtaraan rakyat," tegas Kang Yoto.

Menurut dia, ada beberapa strategi yang menjadi kunci kebijakan untuk mengantar capaian ini. Yakni bagaimana sektor migas membawa dampak eksplorasi dan eksploitasi migas di Bojonegoro pada kesejahtaraan rakyat. Caranya dengan optimalisasi potensi lokal, baik tenaga kerja, barang maupun kesempatan bisnis bagi pengusaha lokal. Ini ditunjukkan dengan penerbitan Perda 23 tahun 2011 tentang optimalisasi potensi lokal..

Selanjutnya, kata Kang Yoto, memastikan semua pendapatan migas hanya untuk belanja yang akan berdampak pada pertumbuhan berkelanjutan, yaitu penguatan sumber daya manusia (SDM), infrastruktur yang relevan bagi pertumbuhan pembangunan dan penguatan fiskal dalam jangka panjang. "Di dalamnya ada investasi sektor keuangan, dan pembentukan dana abadi," ucap Kang Yoto.

Selain itu, pihaknya terus mengoptimalkan potensi pertanian. Tahun 2015 lalu, produksi padi Bojonegoro masih mencapai 907 ribu ton gabah kering sawah. Di banding dengan konsumsi lokal surplus 500 ribu ton. Sementara tanaman jagung, kedelai, singkong, dan tanaman buah buahan, masih tumbuh.Kecuali ternak dan tembakau, yang tidak tumbuh.

Sedangkan sektor wisata dan jasa tumbuh cukup baik dengan adanya kebijakan pemberian insentif investasi bagi para pengusaha yang membuka usaha padat karya di pedesaan yang menjadi kantong kemiskinan terbukti membuahkan hasil.

"Kemiskinan menurun, pemerataan terjadi, pengusaha untung dan kami semua senang," klaim Kang Yoto.

Untuk menggairahkan investasi ini, sejak dua tahun lalu Bojonegoro menawarkan insentif investasi kepada para pengusaha industri padat karya di kawasan pedesaan. Yakni; seluruh perijinan Pemkab yang mengurus, biaya training tenaga kerja lokal ditanggung Pemkab, pemberian dukungan infra struktur yang diperlukan.

Selain itu, suasana kamtibmas yang sangat kondusif di Bojonegoro juga menjadi insentif, dan mengedepankan pendekatan dialogis untuk saling memahami dan mendukung kepentingan masing masing untuk kemajuan bersama. Karena itu, Kang Yoto yakin sejak awal. Dia menegaskan: “Tak ada kabupaten miskin.Yang ada hanyalah kapupaten yang salah urus.

Dirinya semakin percaya, Bojonegoro yang sejak zaman kolonial daerah termiskin, selalu banjir, kekeringan, dengan SDM rendah, kini perlahan lahan semakin baik. Bahkan World Bank, pada Agustus tahun lalu lalu melaporkan hasil studinya, bahwa Bojonegoro termasuk 10 kabupaten yang berkemampuan tercepat mengurangi kemiskinan.

Dari prestasi itu, sejumlah kalangan menilai, pria kelahiran Bojonegoro 17 Februari 1965 ini, layak disejajarkan dengan kepala daerah lain di Jawa Timur yang berhasil memimpin daerahnya masing-masing. Ada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, atau Wali Kota Malang Moh Anton. Bahkan dengan potensi dan prestasinya itu, Kang Yoto diyakini mampu membawa kebaikan bagi Jawa Timur. (rus/dur) 

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Rabu, 11 Maret 2020 22:53 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Keindahan alam di Jawa Timur adalah potensi wisata yang luar biasa. Salah satunya, Taman Wisata Genilangit di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan. Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa datang langsung ke ikon wisata di...
Jumat, 10 Juli 2020 21:04 WIB
Oleh: Ibnu Rusydi Sahara*“Sampean dari Surabaya?” Teman saya kerap menerima pertanyaan itu, manakala turun dari bus antarkota yang membawanya dari Surabaya di beberapa kota di Jawa Timur. Yang bertanya tukang ojek. Yang biasa mangkal di sep...
Rabu, 24 Juni 2020 23:47 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Sabtu, 11 Juli 2020 01:28 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat...