Prof Bustanul Arifinbersama jajaran direksi PG saat seminar. foto: syuhud/ BANGSAONLINE
GRESIK, BANGSAONLINE.com - PT Petrokimia Gresik (PG) menggelar seminar bertajuk "Menggagas Ketahanan Pangan dalam Era Globalisasi" di Wisma Kebomas PG di Gresik, Senin (17/10/2016).
Hadir sebagai pembicara,Ketua Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, Prof. Bustanul Arifin. Dalam seminarnya, Prof. Bustanul Arifin menyampaikan tantangan pangan di masa mendatang,tidak hanya pada aspek fisik saja atau supply and demand, tapi juga VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity dan Ambiguity).
BACA JUGA:
- Musim Tanam 2026: Petrokimia Gresik Siapkan 219 Ribu Ton Pupuk Bersubsidi
- Perkuat Regenerasi Petani dan Cetak Agripreneur, PG Beri Beasiswa 50 Siswa SMK Pertanian
- Hadapi Dinamika Global, Petrokimia Gresik Perkuat Pasokan Sulfur
- Dukung Pertumbuhan UMKM Warga Sekitar, Petrokimia Gresik Kembali Gelar Bazar Ramadhan Lontar 2026
Kondisi inilah yang menjadi gambaran situasi bisnis saat ini. Selain itu, pola konsumsi pangan pun turut berubah. Tantangan lainnya adalah Indonesia masih terfokus pada pajale (padi, jagung, dan kedelai).
Tantangan selanjutnya, adalah rendahnya kualitas dan status gizi, dan terakhir adalah masalah rantai nilai pangan. Dari sejumlah tantangan itu, Prof. Bustanul Arifin menitikberatkan pada perubahan pola konsumsi, serta rendahnya kualitas dan status gizi balita.
Penulis 39 buku itu mengungkapkan pola konsumsi mulai berubah, ini terjadi secara global. Survei di Cina, saat ini anak-anak banyak diberikan makanan siap saji, termasuk juga snack. Sedangkan, pemenuhan konsumsi pangan lain terutama protein dan vitamin di Indonesia masih sangat rendah.
Lebih rendah dibandingkan konsumsi pulsa dan rokok. Dampak dari dua tantangan itu adalah rendahnya tingkat gizi balita. Jumlah balita kurang gizi di Indonesia masih 20 persen. Ini akan berefek pada daya saing bangsa.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




