Ini Trik Pembuat Sandal di Daerah Pelosok Sumenep untuk Naikkan Omzet

“Awalnya karyawan sebanyak empat orang memang buta soal membuat sandal. Meski sudah diajari instruktur, mereka tidak langsung cakap. Butuh beberapa waktu menunggu melihat mereka piawai bikin sandal. Butuh kesabaran tingkat tinggi juga,” kenangnya seraya tersenyum, Minggu (5/6).

Untuk memulai bisnis tersebut, Haruji membutuhkan biaya sebesar Rp 15 juta. Biaya sebesar itu untuk kebutuhan membeli mesin jahit, alat cetak, alat potong, dan sejumlah peralatan lain. Waktu itu Haruji hanya memiliki uang sebanyak Rp 7,5 juta. Untuk mencukupi kebutuhan modal yang masih kurang Rp 7,5 juta, dia harus meminjam ke PNPM Mandiri yang waktu itu menyediakan program simpan pinjam.

Kini Haruji sudah menikmati hasil jerih payah yang dilakukan. Bisnis yang dijalankan mendatangkan keuntungan kotor sebesar Rp 10 juta tiap bulan dengan modal yang dimiliki sebesar Rp 24 juta. Sebagai keuntungan kotor, tentu saja uang sebesar Rp 10 juta itu masih harus dikeluarkan untuk kepentingan bisnisnya, yaitu sebesar Rp 7,2 juta dibayarkan kepada 6 karyawannya dengan masing-masing orang sebanyak Rp 1,2 juta. Jadi, keuntungan bersih yang dia dapatkan sebesar Rp 2,8 juta tiap bulan.

“Saya sangat bersyukur sudah punya pemasukan rutin dari bisnis. Tapi yang terpenting adalah dengan bisnis yang saya jalankan ini, ada nilai lebih yang saya dapatkan, yaitu saya merasa bahagia membantu orang lain memiliki penghasilan juga. Saya sangat mensyukuri perasaan bahagia ini,” ujarnya.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini:Ini Trik Pembuat Sandal di Daerah Pelosok Sumenep untuk Naikkan Omzet - Halaman 2