Kaya Dalil, Kering Makna

Kaya Dalil, Kering Makna Gus Bahar. Foto: dok. pribadi

Oleh: Gus Bahar, Pesantren Salafiyah Seblak Jombang

Di tengah derasnya arus modernisasi dan kemajuan teknologi informasi, manusia hari ini hidup dalam zaman yang sangat bising. Semua orang dapat berbicara, semua orang dapat mengutip, dan semua orang merasa paling benar. Ayat dibaca di mana-mana, hadis dikutip setiap saat, potongan ceramah tersebar dalam hitungan detik, namun pada saat yang sama kita justru menyaksikan sesuatu yang memilukan: akhlak semakin menipis, adab perlahan hilang, dan agama kerap dipakai bukan untuk menerangi hati, melainkan sebagai tameng pembenaran diri.

Kita sedang menghadapi fenomena “, ”.Ironisnya, kekeringan ini bukan terjadi karena manusia jauh dari agama. Justru sebaliknya, manusia terlihat sangat dekat dengan simbol agama. Lidah fasih menyebut dalil. Jari cepat mengetik ayat. Debat agama berlangsung siang malam. 

Tetapi mengapa hati terasa semakin keras? Mengapa persaudaraan semakin mudah retak? Mengapa orang begitu ringan mencela, menghakimi, bahkan menghancurkan sesama atas nama kebenaran?

Karena agama perlahan dipindahkan dari ruang penghambaan menuju ruang pembenaran. Dalil akhirnya tidak lagi dipakai untuk menundukkan ego, tetapi untuk memenangkan ego. Ayat tidak lagi menjadi cermin memperbaiki diri, melainkan senjata menyerang orang lain. Padahal inti agama sejak awal bukan sekadar soal siapa paling banyak hafal, melainkan siapa yang paling tunduk kepada Allah dan paling baik akhlaknya kepada sesama.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak hanya datang membawa teks, tetapi membawa keteladananhidup. Bahkan dalam banyak riwayat disebutkan bahwa akhlak beliau adalah Al- Qur’an yang berjalan. Maka ketika agama dipisahkan dari akhlak, sesungguhnya yang hilang bukan hanya etika sosial, tetapi ruh agama itu sendiri.

Hari ini kita menyaksikan bagaimana sebagian orang begitu mudah menuduh sesat, kafir, bid’ah, munafik, hanya karena perbedaan pandangan yang sebenarnya telah lama menjadi khazanah para ulama. Media sosial memperparah keadaan.

Algoritma lebih menyukai kemarahan daripada kebijaksanaan. Ceramah yang keras lebih cepat viral dibanding nasihat yang meneduhkan. Akibatnya, banyak orang merasa menjadi pembela agama padahal yang dibela sesungguhnya hanyalah amarah pribadi dan kelompoknya.

Bahkan lebih mengkhawatirkan, generasi muda mulai melihat agama sebagai sesuatu yang menakutkan dan penuh pertengkaran. Mereka tumbuh dalam suasana di mana agama lebih sering hadir sebagai hukuman daripada kasih sayang, lebih banyak melarang daripada membimbing. Ketika agama kehilangan wajah rahmatnya, maka manusia akan menjauh bukan dari Allah, tetapi dari cara beragama yang kehilangan hikmah.

Di titik inilah pesantren memiliki tanggung jawab besar. Pesantren bukan hanya tempat belajar kitab, melainkan tempat menempa jiwa. Sejak dahulu, pesantren mengajarkan bahwa ilmu tidak boleh melahirkan kesombongan. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah hatinya. Santri dididik bukan hanya memahami hukum, tetapi juga memahami adab. Sebab ulama-ulama terdahulu sadar bahwa kerusakan terbesar bukan terletak pada kebodohan semata, melainkan pada ilmu yang kehilangan keberkahan.

Tradisi pesantren sebenarnya menyimpan jawaban penting bagi kegelisahan zaman modern. Di pesantren, seseorang belajar bahwa kebenaran tidak identik dengan kebencian. Perbedaan tidak otomatis melahirkan permusuhan. Bahkan dalam khazanah fiqih klasik, para ulama berbeda pandangan dengan sangat tajam, tetapi tetap saling menghormati. Mereka memahami bahwa ilmu adalah jalan menuju kerendahan hati, bukan panggung untuk merasa suci sendiri.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO