Dr. Romadlon Sukardi, M.M.
Rekor MURI yang diraih Jawa Timur—754 sekolah pelaksana SIKAP dan lebih dari 110 ribu guru serta murid terlibat gerakan tanam serentak—harus dibaca bukan sekadar prestasi statistik, tetapi sebagai proof of concept.
Ini adalah bukti bahwa kebijakan publik yang tepat dapat direplikasi, diskalakan, dan diinstitusionalisasi. Jawa Timur sedang menawarkan model pembangunan pendidikan-pangan yang layak dipresentasikan di forum nasional hingga global.
Pada akhirnya, SIKAP adalah metafora politik masa depan: sekolah sebagai pusat produksi pengetahuan, pangan, dan karakter. Ketika pendidikan dipadukan dengan ketahanan pangan, negara tidak hanya sedang menyiapkan tenaga kerja, tetapi sedang menanam kedaulatan. Dan di titik inilah kepemimpinan diuji—bukan pada seberapa keras ia berbicara, melainkan pada seberapa nyata ia menyiapkan generasi yang siap kerja, siap usaha, dan siap menjaga keberlanjutan bangsa.
Dari Halaman Sekolah Menuju Kedaulatan Pangan: Integrasi Pendidikan Vokasi dan Sistem Pangan Berkelanjutan di Jawa Timur
Di tengah meningkatnya tekanan global terhadap sistem pangan—mulai dari krisis iklim hingga tantangan pengangguran generasi muda—pengalaman Jawa Timur menghadirkan satu pelajaran penting: ketahanan pangan yang berkelanjutan bukan semata agenda pertanian, melainkan juga agenda pendidikan.
Melalui kepemimpinan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, kebijakan pendidikan vokasi diintegrasikan secara nyata dengan sistem produksi pangan, menjadikan sekolah sebagai bagian aktif dari solusi pembangunan.
Transformasi halaman dan lahan sekolah menjadi laboratorium hidup produksi pangan telah mengubah wajah pendidikan. Sekolah tidak lagi sekadar ruang transfer pengetahuan, melainkan simpul strategis yang mempertemukan pembelajaran, praktik kerja nyata, dan kebutuhan pasar. Model ini memperkuat kompetensi peserta didik, membangun etos kerja sejak dini, serta menanamkan kesadaran bahwa kedaulatan pangan adalah tanggung jawab kolektif yang dimulai dari level lokal.
Pendekatan Jawa Timur menunjukkan bahwa ketika pendidikan dirancang sebagai infrastruktur produktif, dampaknya melampaui capaian akademik. Ia secara simultan mendorong terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan—khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Integrasi antara sekolah, dunia usaha, dan sistem pasar menjadikan lulusan tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap berwirausaha dan beradaptasi dalam ekonomi pangan masa depan.
Lebih dari sekadar keberhasilan lokal, kebijakan ini menawarkan sebuah proposisi global yang dapat direplikasi, terutama bagi negara-negara berkembang. Jawa Timur memperlihatkan bagaimana kepemimpinan di tingkat subnasional mampu mempercepat pencapaian agenda pembangunan global melalui inovasi kebijakan yang kontekstual, terukur, dan berkelanjutan.
Dengan menjadikan sekolah sebagai pusat pembentukan sumber daya manusia sekaligus penguatan sistem pangan, Jawa Timur menghadirkan cetak biru baru pembangunan. Sebuah pendekatan yang menegaskan bahwa masa depan ketahanan pangan dunia tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi besar, tetapi juga oleh keberanian kebijakan dalam menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama kedaulatan dan keberlanjutan bersama.
*Penulis adalah Ketua Komisi Hubungan Ulama-Umara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Timur
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






