Hujan Deras Robohkan Gedung SDN Tlagah 2 Bangkalan, 248 Siswa Terdampak

Hujan Deras Robohkan Gedung SDN Tlagah 2 Bangkalan, 248 Siswa Terdampak Kondisi SDN Tlagah 2, Kecamatan Galis, Bangkalan.

BANGKALAN, BANGSAONLINE.com - Hujan deras yang mengguyur sejak pagi hingga sore pada Senin (12/1/2026), merobohkan bangunan tua di SDN Tlagah 2, Kecamatan Galis. Terdapat 3 ruang kelas yang tak lagi mampu menahan usia dan cuaca. 

Adapun rinciannya yakni, 2 ruang kelas IV ambruk, sementara 1 ruang kelas V nyaris roboh dan mengancam keselamatan. Kepala SDN Tlagah 2, Fatmawati, membenarkan peristiwa tersebut.

Ia menyebut hujan seharian disertai angin kencang menjadi pemicu ambruknya bangunan yang sejak lama rapuh.

“Gedung kelas 6, 5, dan 4 ambruk akibat hujan seharian. Memang sudah puluhan tahun tidak pernah ada renovasi,” ucapnya saat dikonfirmasi, Selasa (13/1/2026).

Sejak berdiri pada era 1980-an, sebagian bangunan sekolah belum pernah tersentuh perbaikan. Hingga kini, ruang kelas 1, 2, dan 3 masih berdinding anyaman bambu, mencerminkan keterbatasan pendidikan di pelosok. 

Fatmawati yang telah mengabdi 18 tahun sebagai guru dan 2 tahun sebagai kepala sekolah mengaku belum pernah menyaksikan renovasi menyeluruh.

“Selama saya mengajar, tidak pernah ada perbaikan. Kondisinya memang sudah sangat memprihatinkan,” tuturnya.

Keterlambatan renovasi disebut bukan semata kelalaian, melainkan akibat sengketa lahan sekolah yang baru dimenangkan Dinas Pendidikan Bangkalan pada awal 2025. 

Rencana pembangunan baru diagendakan 2026. Namun, alam tak menunggu rencana, ruang kelas 4 dan 6 kini tinggal puing, sementara ruang kelas 5 retak dan nyaris roboh.

Sebanyak 248 siswa terdampak, terdiri dari 40 siswa kelas 4, 40 siswa kelas 5, dan 29 siswa kelas 6. Proses belajar tetap berjalan dengan segala keterbatasan. 

Para siswa terpaksa menumpang belajar di rumah warga sekitar, termasuk rumah kepala sekolah. Tak hanya ruang kelas, kantor sekolah pun rusak dan tak layak ditempati. 

Guru terpaksa beristirahat di bawah pepohonan saat jam rehat, sementara perangkat sekolah dititipkan di masing-masing kelas.

“Kalau istirahat, guru-guru banyak berteduh di bawah pohon. Ruang guru sudah rusak sejak lama,” kata Fatmawati.

Di tengah kondisi tersebut, ia berharap pemerintah daerah segera turun tangan dan tidak menunggu hingga 2026.

“Kami berharap pembangunan bisa segera direalisasikan. Anak-anak tetap harus belajar, tapi keselamatan mereka jauh lebih penting,” cetusnya. (uzi/mar)