Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, didampingi Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk guru tugas dari Mesir dalam dalam acara Inovasi dan Optimalisasi Sekolah/Madrasah dalam menghadapi TKA tingkat SD/MI SMP/MTs di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Jalan Siwalankerto Utara, Rabu (17/12/2025). Foto: M. Mas'ud Adnan/bangsaonline
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, mengundang sebanyak 1.936 kepala sekolah SMP, MTS dan kepala sekolah SD serta MI dari berbagai daerah Jawa Timur. Mereka diundang dalam acara Inovasi dan Optimalisasi Sekolah/Madrasah dalam menghadapi TKA tingkat SD/MI SMP/MTs.
“TKA memang tidak menentukan kelulusan, tapi jadi referensi dan terdokumentasi” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto saat menyampaikan pengarahan dalam acara yang digelar di halaman SMA Unggulan Amanatul Ummah Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Rabu (17/12/2025).
BACA JUGA:
- Amirulhaj Tinjau Adahi, Kiai Asep Pastikan Penyembelihan Dam Jemaah Haji Sah Secara Syariah
- Jelang Armuzna, Ini Taushiah Penting Amirulhaj Prof Kiai Asep kepada Jemaah Haji dan Petugas Haji
- UAC Bakal Buka Program Nuklir, Program Hukum Keluarga Islam Jadi Ilmu Layak Jual, Jika...
- Kiai Asep Cukup Persiapan Dua Bulan, Jika PP Amanatul Ummah Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Muktamar NU
Menurut Kiai Asep hasil TKA (Tes Kemampuan Akademik) yang kemarin digelar sangat rendah.
“TKA kemarin dominan 5 ke bawah, tanpa kecuali sekolah manapun,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
“Kalau 5 ke bawah berarti kita belum berhasil. Padahal tugas guru itu adalah menghilangkan kebodohan,” tegas Kiai Asep.

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, didampingi Dr Zakaria Muhtadi dan ustadz Alwi. Foto: bangsaonline
Karena itu Kiai Asep mengundang para kepala sekolah dan guru untuk sharing bersama. Tak tanggung-tanggung. Kiai Asep menggelar acara ini dalam dua gelombang.
Gelombang pertama digelar di Pacet Mojokerto pada Sabtu, 13 Desember 2025 lalu.
“Pesertanya 1.220 kepala sekolah,” tutur Kiai Asep.
Peserta itu datang dari SD/MI dan SMP/MTs Jombang, Mojokerto, Gresik, Sidoajo, dan Pasuruan.
Gelombang kedua kali ini digelar di Surabaya. Pesertanya sebanyak 716 kepala sekolah. Mereka datang dari Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Bayuwangi, Trenggalek, Surabaya, dan daerah lainnya.
Jadi total 1.936 kepala sekolah yang diundang Kiai Asep.
“Saya tidak mengundang SMA, Aliyah dan lainnya, karena sudah mengikuti TKA,” tegas Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, murid tak bisa menjawab soal ujian atau tes bukan karena bodoh. Tapi karena mereka tak mengikuti penjelasan ilmu dasarnya secara kronologis. Karena itu murid yang nilainya 5 ke bawah harus dikumpulkan secara homogen.
“Karena anak yang cerdas, yang nilainya sudah 7 dalam kelas yang heterogen, menjadi gangguan bagi kita. Padahal sebagian besar murid kita belum bisa,” ujar putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim itu.
Untuk mengatasi itu, menurut Kiai Asep, perlu kelas yang homogen. “Kalau di Amanatul Ummah, nurid yang imu dasarnya 5 ke bawah kita kelompokkan. Perlu ada treatmen berbeda. Perlu perlakuan yang berbeda, bagaimana caranya mereka bisa paham. Karena bukan ilmu kalau tidak paham. Jadi semua murid harus paham sehingga ilmu dasarnya mereka paham,” ujar Kiai Asep.
“Dengan cara ini kita bisa mengentas mereka, dari tidak bisa menjadi bisa,” tambah Kiai Asep.
Nah, realisasinya, tutur Kiai Asep, sebanyak 1.269 santri Amanatul Ummah diterima di perguruan tinggi negeri dan luar negeri. Bahkan di perguruan tinggi luar negeri yang sangat bergengsi.
“Sebanyak 65 santri Amanatul Ummah diterima di Kedokteran di Jerman, di China, di Unhan dan perguruan tinggi lainnya,” jelas kiai miliarder tapi dermawan itu.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




