Lokakarya Media 2025 SKK Migas - KKKS Jabanusa: Workshop Masa Depan Media Lokal

Lokakarya Media 2025 SKK Migas - KKKS Jabanusa: Workshop Masa Depan Media Lokal Workshop membahas masa depan media lokal yang menjadi salah satu rangkaian acara dalam Lokakarya Media 2025 SKK Migas - KKKS Jabanusa.

SEMARANG, BANGSAONLINE.com - Workshop membahas masa depan media lokal menjadi salah satu agenda dalam Lokakarya Media 2025 yang digelar Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi () bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara (Jabanusa), 6-8 Oktober 2025.

Workshop ini menghadirkan dua narasumber, yakni Muhammad Jazuli, Komisi Pengaduan dan Penegakan Dewan Pers yang membawakan materi "Pedoman Dewan Pers dalam Menggunakan AI di Media serta Mediasi antara Media dan Publik" untuk sesi pertama.

Sementara sesi kedua menghadirkan Riza Primadi selaku Media and Communication Expert, dengan tema "Pengembangan Bisnis Model dan Landscape Media di Era Baru".

Batasan Penggunaan AI

Dalam paparannya, Muhammad Jazuli menyebut bahwa artificial intelligence (AI) bagaikan dua mata pisau. Di satu sisi bisa menjadi penantang dunia jurnalisme, namun di sisi lain bisa dimanfaatkan untuk pengembangan, khususnya dalam membantu kerja-kerja wartawan.

Menurutnya, hadirnya AI di tengah pesatnya perkembangan media sosial (medsos) bisa mengancam proses-proses jurnalisme apabila tidak diimbangi kebijaksanaan dalam penggunaannya. Karena itu, harus ada pedoman dalam penggunaannya.

Ia menegaskan, penggunaan AI tidak dilarang dalam produk jurnalistik. Namun, ia menggarisbawahi tetap harus ada peran manusia (jurnalis).

Lulusan UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon ini mencontohkan proses transkrip wawancara yang bisa dibantu oleh AI. Hanya saja, Jazuli menyarankan agar jurnalis tetap menulis menggunakan gaya bahasa masing-masing.

"Jadi AI tidak bisa menggantikan peran wartawan. AI hanya sekadar alat bantu, bukan pengganti jurnalis," tegasnya.

Ia mengingatkan, bahwa prinsip etika dalam produk jurnalistik, adalah akurasi, transparasi, netral, dan akutabilitas. Oleh karena itu, hasil dari AI tidak boleh dijadikan sebagai data final, karena produk jurnalistik perlu riset data.

"Jadi (pemanfaatan) AI hanya (untuk) draft awal berita dan jadi fakta pendukung saja," ujarnya.

"Kalau tidak ada uji data dari jurnalis, maka potensi peluang akan terjadi wartawan 'dibohongi' teknologi. Hal ini akan memunculkan kredibiltas produk jurnalistik dan kepercayaan publik," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Jazuli juga menyampaikan data tentang peningkatan pengaduan publik kepada Dewan Pers. Ia mengatakan, pengaduan yang diterima Dewan Pers tahun ini cukup signifikan. Tercatat dari Januari hingga akhir September 2025, jumlah pengaduan mencapai 800 lebih.

Menurutnya, ada sejumlah faktor yang menyebabkan meningkatnya pengaduan. Antara lain, banyaknya masyarakat yang sudah paham alur untuk mengadu ke dewan pers, serta akses pengaduan yang kini terbuka lebar.

Realitas Mobile First: Konsumsi Berita di Genggaman

Sesi kedua workshop jurnalistik pada Lokakarya Media 2025 - menghadirkan Riza Primadi, dengan tema "Pengembangan Bisnis Model dan Landscape Media di Era Baru".

Di awal paparannya, Riza Primadi menekankan bahwa pesatnya perkembangan teknologi telah membuat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget, termasuk dalam membaca berita.

Hal inilah yang membuat banyaknya media online atau siber bermunculan. "Sehingga saat ini sudah jarang masyarakat yang membuka komputer atau laptop untuk membuka berita. Laptop sekarang hanya digunakan untuk bekerja," ujarnya.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO