Aguk Irawan. Foto: Istimewa
Pertama, kurangnya kesesuaian profil. Erick Thohir lebih dikenal sebagai pengusaha dan politisi daripada ahli kajian keislaman atau pengembangan SDM berbasis nilai-nilai NU. Lakpesdam NU membutuhkan kepemimpinan yang mendalam dalam tradisi keilmuan dan sosial NU.
Kedua, kurangnya akar pesantrennya Eric. Bahkan, Erick tidak memiliki latar belakang kuat sebagai aktivis atau alumni pesantren NU, yang bisa jadi membuatnya kurang memahami ethos dan spirit Nahdliyin.
Ketiga, rekam jejak Erick lebih dominan di ranah politik dan bisnis (BUMN, Menteri), berpotensi mengarahkan Lakpesdam ke arah pragmatisme ketimbang fokus kajian dan pengembangan SDM berbasis nilai.
Keempat, penunjukan Erick mungkin dilihat sebagai upaya transformasi yang dipaksakan tanpa mempertimbangkan kesiapan internal organisasi.
Kelima, jarak dengan tradisi NU. Lakpesdam NU seharusnya menjadi ruang kajian yang dekat dengan tradisi pesantren dan kultur NU; tetapi dengan kepemimpinan Erick bisa jadi memperlebar jarak ini.
Setelah dua tahun lebih berjalan, waktu pula yang membuktikan bahwa pengangkatan Erick Thohir sebagai Ketua Lakpesdam NU kurang tepat dan semakin ketara saat itu ada unsur motif politik terselubung dari pada kebutuhan idealisme organisasi. Mengingat jejak poliitik dan bisnis Eric, apalagi kemudian menjadi menteri BUMN, hal inilah yang menimbulkan pertanyaan besar saat itu tentang kesesuaian profil dan dampaknya bagi organisasi selain, risiko Lakpesdam lebih menjadi alat politik ketimbang lembaga kajian strategis.
Karena itu Lakpesdam NU darurat butuh figur yang mampu menghidupkan kajian kritis dan relevan dengan tantangan zaman. Selain itu, juga memerlukan pemimpin yang mengakar dengan tradisi pesantreni dan mampu membawa visi transformatif berbasis nilai keagamaan dan sosial. Karena Lakpesdam sejak kalahirannya memang diniatkan sebagai ruang Intelektual yang membumi. Wallahu'alam bishawab.
Yogyakarta, 25 September 2025
*Warga Nahdliyin dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Yogyakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




