Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa. (Ist)
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Gubernur Jawa Timur (Jatim), Khofifah Indar Parawansa, mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum memperkuat semangat kedamaian dan kerukunan. Menurutnya, ajaran Nabi Muhammad SAW selalu relevan di tengah dinamika kehidupan bangsa dan dunia yang majemuk.
“Maulid Nabi bukan sekadar peringatan kelahiran Rasulullah, tetapi juga saat kita merenungkan kembali teladan beliau. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bagaimana hidup dalam damai, saling menghormati, dan menjaga kerukunan meski dalam perbedaan,” kata Khofifah, Jumat (5/9/2025).
BACA JUGA:
- Pimpin Upacara Harkitnas 2026, Gubernur Khofifah Ingatkan Generasi Alfa Harus Siap Hadapi Era AI
- Dampingi Sheikh Afeefuddin di Ponpes Genggong, Gubernur Khofifah: Pesantren Benteng Moral Jatim
- Gubernur Khofifah Bahas Kerja Sama Jatim-Yaman di Grahadi
- Sambut Bhikkhu Walk for Peace 2026, Gubernur Jatim Ajak Ajak Kuatkan Toleransi
Khofifah menekankan bahwa Rasulullah SAW berhasil menyatukan masyarakat Arab yang kala itu terpecah karena konflik kesukuan. Hal ini menjadi contoh penting bagi Indonesia yang kaya akan keberagaman suku, budaya, dan agama.
“Beliau memberikan teladan nyata bahwa persaudaraan tidak mengenal batas etnis maupun agama. Prinsip yang dibangun adalah harmoni, solidaritas, dan kasih sayang,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan salah satu sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yang menyatakan bahwa seorang Muslim sejati adalah orang tidak menyakiti orang lain, baik melalui ucapan (lisan), maupuin perbuatan (tangan) mereka, sehingga sesama Muslim merasa aman dari mereka.
Implementasi ajaran damai Nabi Muhammad SAW bisa dimulai dari hal kecil. Menjaga ucapan, menghargai perbedaan, serta menahan diri dari tindakan yang menyakiti orang lain. Lebih jauh, kerukunan juga berarti memperkokoh solidaritas sosial, membantu sesama tanpa memandang latar belakang, serta menguatkan semangat persaudaraan sebangsa.
Dalam konteks bangsa Indonesia, Khofifah menyebut nilai-nilai Maulid Nabi SAW selaras dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Keragaman suku, agama, dan budaya harus dilihat sebagai anugerah, bukan pemicu pertentangan. Meneladani Nabi berarti menjadikan keberagaman itu sebagai kekuatan untuk membangun persatuan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




