Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Qubr, qubur itu untuk menggambarkan suasana senyap, seram, dan mengerikan, sehingga manusia bisa membayangkan betapa berada di dalam kubangan itu suasananya sangat menakutkan, seperti anda yang sendirian di ruang gelap, angker, dan sangat sepi. Jadi sisi sunyi mengerikan itulah yang ditonjolkan.
Karena itu, ruang yang fisis ini disifati, diterangkan dengan berbagai keadaan. Seperti diobrak-abrik, “wa idza al-qubur bu’tsirat” (al-Infithar:4), “afala ya’lam idza bu’tsir man fi al-qubur” (al-Adiyat:9). Penghuninya dibangkitkan, “... wa ann Allah yab’ats man fi qubur” seperti pada ayat kaji ini.
Sedangkan Jadatz atau Ajdats lebih menggambarkan makna lobang yang ada di dalam tanah, di mana dari situlah hewan-hewan kecil, serangga, laron, dan lain-lain keluar satu per satu dengan cepat dan berdesakan menuju satu titik.
Maka, di dalam al-qur’an kata ajdats hanya dipakai untuk menggambarkan keluarnya penghuni kubur kelak di hari kiamat yang semuanya bergegas menuju Tuhan mereka.
Gambarannya seperti laron-laron di musin turun hujan, hujan pertama. Mereka keluar dengan jumlah banyak sekali pada saat malam hari dan semuanya menuju sinar terang, menuju lampu. 'Brul-brul mbejudul', itulah makna “yansilun”.
Semua laron-laron tersebut tertarik oleh cahaya dan berusaha mendekat. Seperti itulah tamsilnya kelak kita tertarik hadir di hadapan Tuhan.
Ketika laron-laron itu membutuhkan kehidupan selanjutnya yang lebih nyaman ketimbang saat berada di dalam, sementara mereka tidak tahu nasib berikutnya, apakah selamat dan tumbuh sejahtera, atau mati dimangsa hewan lain, maka yang jelas mereka pasti memburu kehidupan lebih baik.
Dan kira-kira seperti itulah gambaran kemauan kita, kebutuhan kita kelak di hari akhir. Mengharap dengan sangat penolong yang hadir pada waktu yang tepat untuk membantu mendapatkan kenyamanan surgawi yang didambakan. Dan yang diharap itu tiada bukan, dalam bahasa agama adalah syafaat.
Adalah pertolongan, bantuan dari pihak lain yang dulu saat di dunia kita pernah kenal, pernah akrab, pernah bersahabat dan berinteraksi. Dialah Rasulullah Muhammad SAW. Maka, akrabilah beliau dengan banyak-banyak membaca shalawat kepadanya. Berapa kali anda bershalawat dalam sehari semalam? Kelak, beliau pasti hadir mengunjungi pemujanya.
Dialah Alqur’an al-karim yang sering kita baca. Makanya, setiap muslim dianjurkan akrab, hafal, meskipun hanya satu surah. Tidak harus hafal seluruh Alqur’an dan tentu itu lebih baik. Anda hafal surah al-ikhlas, bacalah dia seratus kali dalam sehari semalam, -misalnya. Hafal surah Yasin, al-Mulk dan seterusnya. Surah-surah tersebut pasti hadir mensyafaati anda kelak. “Anda yang sering menelepon, video call dengan seseorang, maka dia akan semakin mengenali anda”.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




