Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Hanya bagi orang beriman saja yang sangat sadar akan kehormatan diri. Karena dia memandang kehormatan tersebut berstandar Tuhan, bukan berdasar nafsu. Orang beriman, setidaknya memakai tiga sektor sehat. Memakai akal sehat, memakai hati nurani sehat, dan memakai “kaca mata Tuhan” dengan sehat.
Meskipun dipersepsikan, bahwa tampil dengan membuka aurat itu nampak trendi, modis, modern, gaul seperti masyarakat dunia barat, tapi karena agama tidak membenarkan, maka orang beriman tetap tangguh dan patuh terhadap aturan Tuhan.
Beda dengan orang yang pemikirannya berdasar sosio saja. Pokoknya pantes walau Tuhan tak suka, maka hawa nafsu panutannya.
Ada dalih, bahwa brukut, menutup aurat dianggap kuno, primitif, dan ndeso.
Apa tidak terbalik?
Bukankah awal kehidupan manusia itu telanjang tanpa busana?
Setelah mengonsumsi buah terlarang di surga, busana Adam dan Hawa sirna begitu saja. Kemudian mereka memunguti daun surga, dirajut menjadi tutup badan? Lalu berinovasi hingga tercipta pakaian dengan berbagai mode?
Jika pakaian minim dianggap modern, maka kambing, sapi, kuda, lebih modern.
Dunia ini masih beragam tanggapan tentang berpakaian, khususnya pada even tertentu. Kemarin ada persoalan soal jilbab bagi pasukan paskibraka 2024, dan selesai. Juga di Olimpiade Paris, di mana Prancis melarang atletnya sendiri memakai jilbab.
Ternyata Tuhan turun tangan, negara pelenyelenggara perhelatan olahraga kelas dunia itu merunduk malu di mata dunia, setelah peraih medali emas nomor lari marathon putri, Shifan Hassan, utusan negara Belanda, kelahiran Ethiopia, dengan berjilbab rapi, menaiki panggung penghormatan menerima medali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




