Guru Besar ITS, Agus Muhammad Hatta. Foto: Ist.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Berdasarkan minimnya inovasi guna mendukung implementasi industri berkelanjutan di Indonesia, Guru Besar ke-207 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Agus Muhammad Hatta menginovasikan instrumentasi serat optik untuk mendukung industri berkelanjutan.
Dosen yang akrab disapa Hatta itu menjelaskan, industri berkelanjutan merupakan konsep yang berfokus pada pentingnya memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka.
BACA JUGA:
Konsep ini menitikberatkan pada aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan kesejahteraan rakyat dengan meminimalisir dampak negatif industri terhadap lingkungan.
Atas urgensitas tersebut, dosen Departemen Teknik Fisika ITS ini menggagas inovasi berupa sensor serat optik, sistem pencitraan, dan pencahayaan buatan. Tiap instrumen ini memiliki tujuan untuk mendukung infrastruktur berkelanjutan, keamanan pangan, serta peningkatan produktivitas pada bidang agrikultur.
“Implementasi inovasi ini juga sejalan dengan era industri 4.0 yang menekankan pada otomatisasi dan interkoneksi,” terang Hatta, Selasa (18/2/2025).
Lebih lanjut, lelaki asal Jombang itu menginovasikan serat optik menjadi sensor yang dapat ditanam ataupun ditempelkan pada struktur bangunan. Sensor berukuran kecil itu nantinya dapat merekam secara real time suhu, tekanan, regangan, getaran, serta perpindahan melalui perubahan rambatan cahaya di sekitarnya. Data ini kemudian akan dikirim ke sistem monitoring dan dapat digunakan oleh stakeholder untuk mengetahui sisa ketahanan struktur.
Karena akurasinya yang tinggi, sensor serat optik juga dapat membantu mendeteksi secara dini apabila ada kerusakan pada struktur bangunan. Oleh karena itu, risiko kecelakaan ataupun pembiayaan yang tinggi akibat renovasi juga dapat diminimalisir.
“Sensor ini juga dapat digunakan pada infrastruktur mana pun, seperti jembatan, terowongan, bahkan pipa minyak dan gas,” jelas Wakil Rektor IV ITS tersebut.
Di sisi lain, inovasinya yang berupa sistem pencitraan, bertujuan untuk membantu meningkatkan keamanan bahan makanan. Hal ini disebabkan karena masih banyak campuran bahan makanan yang tidak dapat dideteksi secara kasat mata, terutama pada campuran daging mentah. Oleh karena itu, Hatta mengembangkan algoritma pada machine learning untuk dapat mendeteksi komposisi daging berdasarkan cahaya inframerah, cahaya tampak, dan cahaya ultraviolet (UV).
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




