Gubernur Khofifah saat menyalurkan air bersih untuk masyarakat.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Gubernur Khofifah mengimbau kewaspadaan terhadap bencana kekeringan menjelang kemarau tahun ini. BNPB telah menyebutkan bahwa kemarau 2023 di Jawa Timur diperkirakan terjadi pada Mei-September 2023, dan puncaknya pada Agustus serta akhir Juli bagi sebagian wilayah.
“Pekan lalu kita sudah melakukan apel Pengendalian Kebakaran Lahan dan Hutan (Karhutla) di Kaliandra Resort, Pasuruan. Namun yang juga kita harus waspadai berikutnya adalah potensi bencana kekeringan,” kata Khofifah, Selasa (13/6/2023).
BACA JUGA:
- Pimpin Upacara Harkitnas 2026, Gubernur Khofifah Ingatkan Generasi Alfa Harus Siap Hadapi Era AI
- Dampingi Sheikh Afeefuddin di Ponpes Genggong, Gubernur Khofifah: Pesantren Benteng Moral Jatim
- Gubernur Khofifah Bahas Kerja Sama Jatim-Yaman di Grahadi
- Sambut Bhikkhu Walk for Peace 2026, Gubernur Jatim Ajak Ajak Kuatkan Toleransi
Langkah tersebut menjadi penting mengingat Inarisk-BNPB menyebutkan, Jawa Timur memiliki tingkat bahaya kekeringan yang cukup tinggi. Pasalnya, kekeringan tahun ini berpotensi terjadi pada 27 kabupaten/kota yang terdiri dari 1.617 dusun, 844 desa/kelurahan dan 221 Kecamatan.

Estimasi Penduduk terdampak dari kekeringan di Jawa Timur tahun 2023 sebanyak 1.6664.433 jiwa/655.277 KK. Sebanyak 844 desa/kelurahan terbagi dalam 500 kering kritis, 253 kering langka dan 91 kering langka terbatas.
Khofifah pun mengatakan bahwa, tim gabungan dari BNPB, BPBD, sinergi pemkab dan pemkot, serta komunitas relawan telah disinergikan guna memaksimalkan upaya pencegahan maupun penanggulangan bencana kekeringan.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




