Dahlan Iskan
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Pertanyaan ini penting dijawab, terutama bagi orang yang ingin berprestasi untuk masyarakat. Atau bermanfaat bagi masyarakat. Tapi apa hubungannya dengan Latihan menembak?
Nah, ikuti tulisan wartawan kondang, Dahlan Iskan, di HARIAN BANGSA pagi ini, Sabtu 21 Januari 2023. Atau di BANGSAONLINE di bawah ini:
BACA JUGA:
- Kodim 0805 Ngawi Juara PWI Cup 2026, Turnamen Voli Bakal Jadi Agenda Tahunan
- Dandim 0829 Bangkalan Gelar Silaturahmi dengan Wartawan, LSM, dan Ormas
- Kodim 0819 Pasuruan Gelar Operasi Katarak Massal dalam Peringatan Hari Juang TNI AD
- HUT TNI ke-80, Kodim 0819 Bagikan 2.000 Pasang Sepatu ke Siswa dan Santri se-Pasuruan Raya
INILAH salah satu contoh penerapan prinsip ''jangan besar dari jabatan, besarkanlah jabatan''. Contohnya sangat sederhana. Tapi langsung menusuk ke sanubari saya.
Pagi itu saya kumpul wartawan: ramai-ramai diberi kesempatan merasakan menembak dengan senapan laras panjang: SS1-V4. Lokasi: di lapangan tembak Batalyon Infanteri 500 Raiders/Sikatan, Surabaya. Dekat Markas Kodam V/Brawijaya.
Posisi menembaknya sambil tiarap di lantai lapangan. Di atas rumput yang dilapisi matras. Seperti militer yang lagi merayap sambil menembak. Tiap kloter berjajar 10 wartawan. Sambil tiarap diajari cara menembak: 10 wartawan 10 pelatih.
Sasaran tembaknya di depan sana: 75 meter. Ada titik hitam di tengah lingkaran besar. Kami harus membidik titik hitam itu. Dari lubang intai di senjata itu bisa dilihat si titik hitam. Posisi titik harus di ujung gambar tiang tengah dari tiga tiang yang terlihat di ujung senapan.
Setelah titik hitam berada di posisi tembak, barulah pelatuk ditarik. Harus dengan sangat pelan. Kalau ditarik cepat bisa mengubah posisi titik tembak.
Dor!
Meleset.
Jangankan titik hitam, mengenai lingkaran besar pun tidak.
Menurut evaluasi pelatih, saya masih terlalu cepat menarik pelatuk. Kesusu. Itu menandakan emosi saya belum tenang. Maka diulangi lagi: dor!
Meleset lagi.
Tiga kali tembakan pertama meleset semua.
Masih ada tujuh peluru lagi. Kali ini harus ada yang kena. Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Hasilnya sama: meleset semua. Menulis cerita ternyata lebih mudah daripada menembak. Menemukan lead yang baik lebih cepat dari menemukan sasaran titik hitam.
Betul. Menembak beneran tidak seperti dalam adegan film. Yang sambil meloncat pun bisa kena sasaran. Bahkan sambil salto. Ternyata ada ajaran khusus untuk bisa menembak dengan baik. Nama ajaran itu: Nabi Tepi. Itu singkatan dari Napas, Bidik, Tekan, Picu. Napas harus tenang, bidikan harus tepat, tekanan picu harus halus.
Saya tadi bukan menekan picu, tapi menarik picu. Salah. Bukan ditarik, tapi ditekan. "Saking halusnya tekanan picu sampai seolah senjata meledak sendiri," ujar Pangdam V/Brawijaya yang baru, Mayjen TNI Farid Makruf MA.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




