DARI KIRI: KH. Ir Salahuddin Wahid (Gus Solah), KH. Sya’ban Mauludin, M.Pd.I (Ketua Tanfidziah PWNU Sulawesi Utara) dan KH Rizal Anwar (Wakil Rais Syuriah PWNU Sulawesi Utara). Foto: BANGSAONLINE
”Kalau mereka sampai besar dan NU membiarkan Syiah dan paham lain itu berkembang di Indonesia, kita khawatir Indonesia seperti negara-negara di Timur Tengah,” tambahnya.
"Karena itu kita wajib menjaga warga NU dengan berjuang secara maksimal di NU. Jadi jangan hanya pidato tapi harus bekerja,” katanya.
Gus Solah mengaku ada orang bertanya pada dirinya: apa tidak sebaiknya di NU perlu regenerasi? ”Regenerasi tidak bisa diukur dengan usia. Dulu KH. Wahab Hasbullah lebih muda dari KH. Idham Khalid, dan di Amerika calon presiden Jimmy Charter lebih muda dari Ronald Regent, tapi Ronald Regent yang lebih tua yang menang,” katanya.
Menurut dia, ke depan NU harus introspeksi tentang kelemahannya. ”Kalau perlu kita memanggil konsultan dan kita rumuskan bersama untuk memperbaiki NU,” katanya.
Para pengurus PWNU dan PCNU se-Sulawesi Utara itu tampak antusias mendengarkan paparan Gus Solah. Mereka bahkan sepakat mendukung dan memilih KH Hasyim Muzadi sebagai Rais Am dan Gus Solah sebagai ketua umum PBNU. ”Beliau berdua sangat layak memimpin PBNU,” kata Ketua PWNU Sulawesi Utara KH. Sya’ban mauludin, M.Pd.I
Mereka juga menolak rencana penerapan Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) yang digagas PBNU dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 1-5 Agustus mendatang. Menurut mereka ada indikasi kuat Ahwa hanya untuk menghadang tokoh tertentu. ”Aroma politiknya sangat kental sekali ketimbang dengan tujuan kemaslahatan NU,” kata Sekretaris PWNU Sulawesi Utara, H. Suwarno, yang memimpin jalannya acara. (hms)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




