Kamis, 26 November 2020 02:50

Warga Coblosan Pilwali di Tengah Covid-19, Ini Langkah yang Dilakukan KPU Surabaya

Senin, 26 Oktober 2020 18:15 WIB
Editor: Abdurrahman Ubaidah
Wartawan: Devi Fitri Afriyanti
Warga Coblosan Pilwali di Tengah Covid-19, Ini Langkah yang Dilakukan KPU Surabaya
Nafilah Astri Swarist, Komisioner KPU Surabaya didampingi Ketua PWI Jatim Ainur Rohim dan Ketua Mappilu Jatim Machmud Suhermono di gedung PWI Jatim, Senin (26/10/2020).

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya akan berusaha maksimal melindungi warga agar tidak tertular virus corona (Covid-19), sehingga membuat klaster baru saat pemilihan wali kota dan wakil wali kota Surabaya pada 9 Desember 2020 nanti.

Demikian ditegaskan Nafilah Astri Swarist, Komisioner KPU Surabaya Divisi Perencanaan Data dan Informasi pada acara Sosialisasi Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya bekerja sama dengan PWI Jatim dengan tema Peran Media Massa dalam Menyukseskan Pilkada Serentak 2020 di gedung PWI Jatim, Jalan Taman Apsari Surabaya, Senin (26/10)

"Kami berkomitmen meminimalisir penularan Covid-19, karenanya ada tahapan-tahapan yang ketat sesuai protokol kesehatan. Kerja sama kami lakukan dengan Kepolisian untuk kampanye, dan dengan pihak Satgas Covid-19 untuk pentahapannya. Mulai pendataan, pendaftaran, pencoblosan hingga saat penghitungan suara," terang Nafilah.

Menurutnya, setiap TPS maksimal 500 pemilih, sehingga dibutuhkan 5.184 TPS untuk sebanyak 2.089.027 daftar pemilih tetap. Sosialisasi ini dilakukan KPU Surabaya bekerja sama dengan PWI Jawa Timur, diikuti para wartawan berbagai media cetak, online, dan tv.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya dan PWI Jatim menggelar sosialisasi peran media massa di Pilkada Serentak 2020 yang diadakan Desember mendatang, yang diadakan di Balai Wartawan PWI Jatim, Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya, Senin (26/10).

Sementara itu, Ketua PWI Jawa Timur, Ainur Rohim mengatakan, media massa harus imparsial atau netral. Hal ini juga merujuk pada berbagai aturan, yang menempatkan media sebagai bagian atau pilar demokrasi dan tidak boleh berpihak.

"Media massa harus menjadi imparsial, tidak boleh memihak. Bahasa lugasnya tidak boleh menjadi tim sukses paslon," ujar Ainur Rohim.

Dalam paparannya Air - begitu sapaan akrabnya, juga menyampaikan, betapa sulitnya media untuk bersifat adil dalam pemberitaan. Meski memberikan porsi pemberitaan yang sama, namun media tetap menempatkan berita paslon pada jam berbeda yang bisa jadi menjadi tanda ketidaknetralan media dalam proses pilkada.

"Kita sering melihat bahwa porsi pemberitaan yang sama, tapi di jam yang berbeda. Paslon yang disukai media bersangkutan beritanya dinaikkan pada prime time. Sementara paslon lainnya di jam non prime time. Ini kan bisa menjadi tanda ketidaknetralan media," lanjut wartawan senior di Surabaya itu.

Ainur Rohim juga menyebut perbedaan antara media massa dan media sosial. Jika media massa memiliki sensor internal yang berlapis, ada korektor, editor, dan pimred, maka medsos tidak memiliki tahapan itu, sehingga yang muncul lebih subyektif individu, dan bahasanya umumnya kasar. (dev/dur) 

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Jumat, 20 November 2020 22:13 WIB
SUMENEP, BANGSAONLINE.com - Berbicara tentang destinasi wisata di Kabupaten Sumenep memang tak pernah sepi. Selain memiliki sejumlah tempat wisata religi dan budaya, kabupaten yang berada di ujung timur Pulau Madura ini juga memiliki segudang destina...
Selasa, 10 November 2020 09:44 WIB
Oleh: M. Mas’ud Adnan --- Peristiwa 10 November 1945 adalah tonggak sejarah sangat penting bagi bangsa Indonesia, terutama umat Islam. Sebab, pada momentum 10 November itulah, nasionalisme mendapat pemaknaan sangat signifikan dalam paradigma k...
Minggu, 22 November 2020 21:26 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*39. walawlaa idz dakhalta jannataka qulta maa syaa-a allaahu laa quwwata illaa biallaahi in tarani anaa aqalla minka maalan wawaladaanDan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ”Masya Allah, ...
Jumat, 06 November 2020 10:34 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&l...