Bambang Haryo Soekartono (BHS) saat mengunjungi Kampung Jamur di Desa Wadungasih, Kecamatan Buduran, Kamis (16/7/2020). (foto: MUSTAIN/BANGSAONLINE).

BHS berharap dengan kembali berkembangnya budi daya jamur di Desa Wadungasih ini, keberadaan Kampung Jamur bisa dimanfaatkan untuk dunia pendidikan.
Siswa SD, SMP, dan SMA bisa belajar secara langsung tentang jamur di Kampung Jamur Wadungasih Buduran. "Nanti kalau saya diamanahi bupati, saya akan dorong sekolah-sekolah, siswanya belajar cara budi daya jamur di kampung ini," harap Alumnus ITS Surabaya ini.
Salah satu pembudi daya jamur, Wiwik Ekowati mengatakan, kondisi Kampung Jamur saat ini seakan mati suri. Dulunya, puluhan warga berbudi daya jamur tiram. Namun saat ini, hanya tinggal dia saja. "Banyak yang sudah tidak budi daya. Kendalanya karena musim dan permodalan," ucapnya.
Sementara, saat diresmikan oleh Bupati Sidoarjo pada tahun 2010 lalu, Kampung Jamur hingga tahun 2014, banyak menghasilkan jamur tiram. Wiwik bercerita, kala itu, warga yang berbudi daya jamur tiram putih, sehari bisa panen sebanyak 20 kilogram.
Bibit jamur yang ditanam, bisa panen tiap hari, selama tiga bulan. Dengan kondisi tersebut, para pembeli berdatangan ke Desa Wadungasih. Bahkan, sejumlah pembeli dari Surabaya lebih memilih ke Kampung Jamur daripada harus ke Pacet Mojokerto.
Kata Wiwik, dengan kedatangan BHS ke Kampung Jamur ini, warga yang berbudi daya jamur mendapatkan suntikan semangat untuk kembali mengembangkan budi daya jamur. Apalagi BHS juga memberikan bantuan bibit dan alat spray agar kondisi suhu lahan bisa lembap. "Kedatangan Pak Bambang membuat kami kembali semangat untuk budi daya jamur," tandasnya. (sta/zar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




