​Desa Sade Lombok, Menjaga Keseimbangan Tradisi dan Agama

​Desa Sade Lombok, Menjaga Keseimbangan Tradisi dan Agama Atraksi Tarian Adat Peresean yang merupakan tarian perang dari Desa Sade. Ini atraksi yang paling disukai turis baik lokal maupun mancanegara. foto: DIDI ROSADI/ BANGSAONLINE

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Belakangan ini banyak terjadi polemik di masyarakat terkait benturan antara tradisi dengan syariat agama. Tak jarang kondisi itu berpotensi menimbulkan konflik horizontal di masyarakat. Namun keseimbangan antara tradisi dan agama bisa dilihat di Desa Sade yang penghuninya adalah suku Sasak, orang asli Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Saat berkunjung ke desa adat ini pada pekan lalu, BANGSAONLINE.com melihat sendiri harmonisasi yang telah berlangsung turun temurun, hingga saat ini. Keseimbangan antara tradisi dengan agama di Sade membuat penduduk desa yang 100 persen muslim itu hidup guyub rukun.

Talim, warga Desa Sade mengakui, meski seluruh penghuni Desa Sade memeluk agama Islam, tapi tradisi yang bernuansa Hindu masih terjaga dan dijalani. Di antaranya mengepel lantai rumah dengan kotoran kerbau. Dengan keyakinan, kerbau itu nanti yang akan mereka tunggangi ke surga.

"Dahulu memang kami menganut Islam Wetu Tilu. Di mana yang sholat dan puasa hanya ulama atau tokoh agama. Namun setelah kedatangan ulama dari Jawa pada tahun 1960-an, ibadah kami sama sebagaimana orang Islam lainnya," tutur Talim.

Tradisi lain yang masih dijaga adalah kewajiban perempuan untuk bisa memintal benang dari kapas menjadi kain atau pakaian. Perempuan yang belum bisa memintal, maka ia tidak diperbolehkan menikah. Risikonya, bisa menjadi perawan tua.

Namun, sejauh ini belum ada perempuan yang belum menikah di atas usia 20 tahun. Umumnya, sejak usia 9 tahun mereka sudah diajarkan menenun. Dan tak butuh waktu lama bagi mereka untuk bisa mahir memintal benang.

"Perempuan Sade wajib bisa menenun. Itu syarat untuk bisa menikah atau dipersunting laki-laki. Karena itu, juga modal mencari nafkah bagi keluarga. Sedangkan untuk laki-laki membuat kerajinan untuk dijual kepada turis," terang Talim.

Bapak dua anak yang menikah saat usia 17 tahun ini mengungkapkan keunikan lain yang merupakan tradisi di desanya. Yaitu, rumah di Sade jumlahnya 150 unit yang dihuni oleh 150 kepala keluarga. Jumlah ini tidak akan berkurang atau bertambah.

Sementara jumlah total penduduk sekitar 700 jiwa. Mereka pun saling kenal dan tahu nama tiap penduduk. Hal itu karena kuatnya kekerabatan di Sade. Sebab, penduduk Sade tidak menikah dengan penduduk di luar desa. Hingga wajar kalau mereka saling mengenal satu sama lain.

"Meskipun tidak dilarang, tapi sampai saat ini belum ada penduduk Sade yang menikah dengan orang di luar desa," imbuh Talim.

Soal mata pencaharian, sejatinya penduduk Sade itu adalah petani. Namun, mereka hanya bisa bertani setahun sekali. Sebab belum ada sistem irigasi sehingga masih bergantung pada air hujan.

Bila sedang tidak bertani, penduduk Sade mencari nafkah dari menjual kerajinan tangan dan kain tenun kepada turis yang berkunjung ke desa. Selain itu, mereka juga menampilkan atraksi kepada para turis. Nantinya secara sukarela para turis akan memberikan uang sebagai bentuk apresiasi telah dihibur dengan atraksi khas Sade.

"Yang terkenal itu tari Paresean, Tari Gendang Beleq dan Tari Amaq Temenges. Semuanya khas Sade dan dibawakan oleh orang Sade," pungkasnya. (mdr/ian)