Kamis, 16 Juli 2020 20:50

Agama Harmonis, Pembakaran Kantor DPRD Papua Barat Faktor Ras-Politik

Senin, 19 Agustus 2019 14:22 WIB
Editor: tim
Wartawan: tim
Agama Harmonis, Pembakaran Kantor DPRD Papua Barat Faktor Ras-Politik
Seorang petugas polisi terkena lemparan batu para pengunjukrasa saat mengamankan pembakaran Kantor DPRD Papua Barat di Manokwari, Senin (19/9/2019). Foto ini diambil dari video yang beredar di grup-grup WhatsApp (WA) para tokoh di Papua Barat.

MANOKWARI, BANGSAONLINE.com - Rais Syuriyah PWNU Papua Barat KH Ahmadi mengungkapkan bahwa keharmonisan agama di Papua Barat, terutama di Manokwari, sangat bagus. “Di sini anak pendeta main di rumah anak pak haji sudah biasa. Begitu juga anak pak haji main di rumah anak pendeta juga biasa. Jadi masalah keharmonisan agama sangat bagus,” kata Kiai Ahmadi kepada BANGSAONLINE.com, Senin (19/8/2019).

Saat diwawancarai BANGSAONLINE.com, Kiai Ahmadi sedang berada di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong Papua Barat. Kiai Ahmadi memang salah satu dosen di STAIN Sorong. Selain dosen dan Rais Syuriah PWNU, Kiai Ahmadi juga Wakil Ketua Majelis Ulama (MUI) Papua Barat bidang pendidikan dan penelitian.

Menurut Kiai Ahmadi, aksi-aksi demo di Papua Barat yang terjadi selama ini lebih banyak faktor suku atau ras dan politik, termasuk pembakaran kantor DPRD Papua Barat di Manokwari hari ini. “Ini kan imbas kasus di Surabaya dan Malang,” kata Kiai Ahmadi.

Info yang diterima BANGSAONLINE.com, insiden pembakaran kantor DPRD Papua Barat itu dilakukan oleh warga asli Papua yang berunjuk rasa karena marah atas peristiwa mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. Mereka turun jalan sejak pukul 05.00 WIT.

“Pukul 8 pagi mereka sudah mengepung gedung DPRD Papua Barat,” tutur warga Papua Barat kepada BANGSAONLINE.com. 

Para pengunjuk rasa itu tidak hanya membakar kantor DPRD Papua Barat, tapi juga melakukan perusakan dan penjarahan di toko-toko. “Toko HP Emond dijarah,” kata orang tersebut sembari menegaskan bahwa mereka juga menyerang pasar tradisional yang pengunjungnya para warga pendatang, terutama Jawa dan Makassar.

"Mereka juga membakar bendera merah putih. Mereka menganggap aparat tidak adil. Mereka merasa didiskriminatif oleh masyarakat Jawa," tegasnya lagi.

Ketika ditanya bagaimana dengan perilaku orang Papua yang diduga merusak bendera merah putih di Surabaya, ia berujar, “Mereka tak bisa diukur dengan standar cara berpikir kita. Mereka punya argumentasi politik sendiri,” katanya.

Kiai Ahmadi berharap agar masyarakat di luar Papua terutama di kota-kota besar di Jawa tidak terprovokasi. “Ketika ada persoalan hendaknya ditangani dengan cara persuasif untuk menjaga agar tidak berdampak terhadap warga pendatang di Papua,” harapnya.

“Suatu hal yang perlu diapresiasi, kerukunan umat beragama di Papua sangat harmonis. Selama ini harmonisasi keagamaan aman dibanding dengan daerah lain. Hal ini pernah disampaikan oleh para peneliti dari Litbang Kemenag Pusat maupun Litbang wilayah Makassar,” katanya. 

Yang pasti, akibat unjuk rasa ini banyak yang jadi korban, termasuk aparat keamanan yang sedang bertugas saat pembakaran kantor DPRD Papua Barat itu. Dari video-video amatir yang beredar di grup-grup WhatsApp (WA) para tokoh di Papua, BANGSAONLINE.com mendapatkan seorang aparat polisi luka kepalanya. Bahkan kepalanya terus berdarah sehingga ia minta dipanggilkan mobil ambulans.

Muka polisi itu tampak penuh aliran darah yang mengucur dari kepalanya yang terluka akibat lemparan batu para pengunjuk rasa. (tim)  

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Kamis, 16 Juli 2020 20:24 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Bunga lampion atau yang juga dikenal dengan mawar venezuela ini ternyata dapat tumbuh subur dan mekar di Kota Surabaya. Padahal, di tempat aslinya, pohon ini tumbuh di hutan dengan suhu sekitar 19-25 derajat celcius.Menar...
Jumat, 10 Juli 2020 21:04 WIB
Oleh: Ibnu Rusydi Sahara*“Sampean dari Surabaya?” Teman saya kerap menerima pertanyaan itu, manakala turun dari bus antarkota yang membawanya dari Surabaya di beberapa kota di Jawa Timur. Yang bertanya tukang ojek. Yang biasa mangkal di sep...
Senin, 13 Juli 2020 23:23 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Rabu, 15 Juli 2020 12:17 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan ala...