Santren Delik, Berawal dari Komunitas Diskusi di Kafe Jadi Nongkrong Taubat Generasi Milenial

Khairul Anas (22), satu Pengurus Santren Delik mengungkapkan, “Santren Delik bukan seperti pondok pesantren pada umumnya. Tidak ada yang namanya santri tetap, kita nyebutnya jemaah Santren Delik, yang biasanya datang setiap malam jumat.”

“Adapun Nongkrong Taubat ini, sasarannya ke anak muda yang takut ikut kajian islami. Sebenarnya mereka ingin ikut ngaji, tapi mungkin ada rasa sungkan karena di masjid . Alhamdulillah, ada sekitar 200-an lebih mahasiswa dan anak muda selalu antusias datang ke acara ini, setiap minggu. Karena selain ada kajian dari ustaz-ustaz ternama dari Semarang, ada juga konsumsi gratis berupa nasi kucing, gorengan, dan teh atau kopi. Untuk masalah biaya, dalam mengadakan acara ini, berasal dari founder, donatur, kafe KnK, ada juga iuran dari pengurus, dan hasil galang dana. Banyak juga relawan yang membantu pada acara ini,” tambah dia.

Selain Nongkrong Taubat, Santren Delik juga memiliki beberapa kegiatan. Antara lain, setiap bulan ada kajian Fiqih Anak Muda, yaitu mengajarkan generasi milenial mengenai ilmu fiqih dengan gaya kekinian. Bahasannya tidak hanya ibadah, tetapi masalah sederhana misalkan pacaran, kangen, bagaimana berbagi ke orang tua.

“Ada juga Taman Lentera, kita yang mewadahinya. Tujuannya melatih anak-anak setiap akhir pekan untuk belajar bagaimana sesuatu yang didapat di luar sekolah. Belajar untuk berani bicara, untuk mengenal negara lain, jadi sifatnya pendidikan karekter, dll,” tambah Anas.


// Ganti skrip ShareThis lama di bagian bawah file dengan ini: