"Anak-anak butuh pemulihan psikologi yang dialaminya. Mereka banyak yang trauma menghadapi musibah alam tersebut," katanya Selasa (13/11).
"Rasa kekecewaan dan luka hati selalu datang dalam kehidupan setiap manusia di segala usia. apalagi dalam menghadapi atau melihat kejadian gempa dan tsunami seperti yang terjadi di Sulteng. Luka hati dalam usia anak-anak yang membusuk, dapat menyebabkan pertumbuhan yang tidak sempurna di beberapa aspek kehidupan sosial. Kondisi psikologi anak-anak harus dikembalikan sampai pulih," tutur Paulus.
Kenapa boneka? Ia menjelaskan, alasannya boneka dapat mengobati luka dalam hati anak-anak. Terutama boneka yang tekstur halus dan empuk. Karena bisa memberikan rasa nyaman bagi pemiliknya.
"Anak-anak lebih memilih boneka dibanding mainan yang 'keras'. Dari rasa nyaman inilah proses pengobatan dapat dimulai dengan membiarkan pasien merawat bonekanya dengan cara sebagaimana mereka mau dirawat."










