Rabu, 24 Juli 2019 08:26

Masjid Lautze Jadi Saksi Ribuan Etnis Tionghoa Bersyahadat

Sabtu, 07 Juli 2018 22:29 WIB
Editor: Redaksi
Wartawan: -
Masjid Lautze Jadi Saksi Ribuan Etnis Tionghoa Bersyahadat
Masjid Lautze di Sawah Besar, Jakarta Pusat.

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Dengan tingkat keragaman yang dimiliki saat ini membuat corak budaya di Indonesia memiliki banyak varian. Salah satunya dalam hal arsitektur bangunan. Sebagai contoh, jika bangunan Masjid yang selama ini identik dengan gaya arsitektur Timur Tengah, namun tidak untuk bangunan masjid yang satu ini. Dengan sentuhan gaya arsitektur Tionghoa yang kental, membuat Masjid LauTze di Jakarta ini menjadi sangat unik.

Masjid Lautze di Sawah Besar, Jakarta Pusat, memiliki keunikan karena arsitekturnya yang bergaya China. Bukan itu saja, bangunan Masjid Lautze yang terletak di tengah-tengah deretan ruko juga menjadi daya tarik tersendiri.

Humas Yayasan Karim Oei, Yusman Iriansyah, mengatakan Masjid Lautze sengaja didirikan di kawasan pecinan untuk menyiarkan dakwah Islam ke kalangan etnis Tionghoa. Masjid Lautze sendiri dikelola oleh Yayasan Karim Oei.

Selain namanya yang tidak biasa, masih ada lagi yang membedakan Masjid Lautze dari masjid-masjid lainnya. Pertama, kalau umumnya masjid dibuka di setiap waktu shalat untuk jamaahnya, Masjid Lautze hanya buka pada waktu-waktu tertentu saja. Dari hari Ahad sampai Jumat, masjid ini hanya buka dari jam sembilan pagi hingga jam empat sore. Jadi pada hari-hari tersebut, masjid ini hanya punya dua waktu shalat yaitu zhuhur dan ashar.

Kedua, masjid ini benar-benar tutup di hari Sabtu. Ketiga, hari Ahad merupakan hari "khusus" di mana Yayasan mengadakan pengajian rutin (mingguan) untuk para jamaahnya yang sebagian besar merupakan mualaf keturunan Cina.

“Masjid ini dibuka hanya pada jam-jam kerja sesuai dengan administrasi yayasan. Sedangkan, soal mengapa kita mengadakan pengajian di hari Ahad, karena merupakan hari libur di mana para jamaah memiliki waktu senggang ketimbang hari lainnya,” kata H. M. Ali Karim Oei, putra bungsu H. Karim Oei.

“Kegiatan utama kita menyampaikan informasi Islam ke kalangan Tionghoa, yang kedua kita membimbing mereka yang ingin masuk Islam, bersyahadat. Alhamdulillah jumlahnya selalu bertambah yang bersyahadat melalui Masjid Lautze,” ujar Yusman.

Semangat syiar Islam itulah yang dibawa sejak pertama kali masjid ini didirikan pada 1991 silam. Yusman mengungkapkan, Masjid Lautze mulai menyediakan bimbingan bagi calon mualaf pada tahun 1997. “Sebelumnya kita mungkin hanya kasih rekomendasi saja. Mulai dari 1997, sudah mulai pengislaman, membacakan syahadat di sini,” tambah Yusman.

Yusman mengakui, Masjid Lautze memang kerap menjadi rujukan bagi warga etnis Tionghoa yang ingin memeluk agama Islam. Menurutnya, kebanyakan warga etnis Tionghoa memilih untuk menjadi mualaf di Masjid Lautze adalah kedekatan secara psikologis. 

“99 persen bisa dibilang (warga) etnis Tionghoa. Mungkin karena merasa dekat dan banyak mualafnya jadi mereka tidak malu dan ragu untuk belajar dan memperdalam agama Islam,” jelasnya.

Bangunan Masjid Lautze terdiri dari empat lantai. Lantai satu dan dua difungsikan sebagai masjid, sedangkan lantai tiga dan empat digunakan sebagai kantor yayasan.

Seperti tampilan luarnya, interior masjid itu ternyata juga tidak terlalu muluk. Selain kaligrafi Islam yang dipadukan dengan huruf kanji, dinding masjid hanya dihiasi oleh sedikit unsur-unsur ketimuran.

(Kaligrafi Cina di Masjid Lautze)

Sejak 1997, tercatat sudah ribuan warga etnis Tionghoa berucap syahadat di Masjid Lautze. Jumlahnya secara rinci dituliskan di sebuah papan yang dipasang dekat pintu masuk Masjid. Dari tahun 1997 hingga 2017, tercatat sudah 1.339 orang menjadi mualaf di Masjid Lautze.

(Data mualaf di Masjid Lautze)

Bisa dibilang, Masjid Lautze adalah masjid yang ramah mualaf. Sejumlah kegiatan di masjid ditujukan untuk pembimbingan dan pendalaman agama untuk mualaf. Meski begitu, kegiatan umum seperti pengajian dan salat berjamaah tetap berlangsung di sini.

“Kegiatan masjidnya, ada pengajian, salat Jumat. Cuma memang lebih fokus ke mualafnya, seperti membimbing mereka mungkin baru belajar salat, belajar ambil air wudu, baca iqra, baca Al-Qur'an, seperti itu,” terang Yusman.

Selain itu, pengelola masjid juga memberikan kepercayaan bagi para mualaf untuk menjadi imam-imam salat tarawih saat bulan Ramadhan. Hal itu menurut Yusman, agar mereka merasa dihargai dan semakin termotivasi untuk belajar agama Islam.

Lalu pada saat Ramadhan, jam buka Masjid Lautze mengalami sedikit perubahan. Setiap Ahad malam, para mualaf bimbingan Yayasan H. Karim Oei melaksanakan shalat tarawih di masjid itu. Pelaksanaan shalatnya juga berbeda dari masjid-masjid lain.

“Setiap Minggu malam kita mengadakan tarawih di sini. Kita melakukannya empat kali dua rakaat. Setiap dua rakaat, imamnya kita ganti. Tujuannya adalah untuk melatih para mualaf tersebut agar bisa menjadi imam.” pungkas Ali. (*)

Kamis, 11 Juli 2019 16:29 WIB
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Siapa pun pasti tersenyum membaca nama tempat wisata ini. Maklum, identik alat vital wanita: “Tempik Gundul” yang artinya alat vital wanita tanpa bulu. Apalagi tulisan yang beredar di media sosial (medsos) juga d...
Minggu, 14 Juli 2019 13:13 WIB
Oleh: Dr. KH. M. Cholil NafisBaru saja, Kamis (12/7) saya berpartisipasi dalam kegiatan Bussiness Matching The 1st Pasific Exposition yang berlangsung pada 11 s.d. 14 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru.Pacific Exposition merupakan salah satu kontri...
Kamis, 18 Juli 2019 13:54 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag57. Ulaa-ika alladziina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbihimu alwasiilata ayyuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahtsuuraanOrang-orang yang mereka seru itu, ...
Sabtu, 29 Juni 2019 14:36 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...