Emil dan Arumi Bachsin bercengkrama dengan pedagang Semanggi Surabaya di area cfd, Jl. Darmo. foto : didi rosadi/BANGSAONLINE
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Akhir pekan ini dimanfaatkan Emil Elsetianto Dardak bersama keluarga menikmati destinasi wisata yang ada di kota Surabaya. Tak perlu ke tempat wisata yang mahal, Calon Wakil Gubernur nomor urut 1 itu cukup mengunjungi menikmati wisata murah meriah di arena car free day (CFD) di Jalan Raya Darmo. Sebelumnya Emil dan keluarga juga ke Taman Bungkul, pusat penjualan alat olah raga dan musik di Jalan Praban serta Kebun Binatang Surabaya (KBS).
Warga kota Surabaya yang sedang ada di area CFD pun sontak heboh. Pasalnya, Emil beserta sang istri, Arumi Bachsin muncul di tengah-tengah kerumunan masa yang hadir. Kontan saja, hal itu memicu beberapa kalangan yang datang untuk berswa foto bersama bupati non-aktif Trenggalek ini.
BACA JUGA:
- Muskerwil PWNU Jatim Digelar di Tuban, Emil Dardak Ajak NU Bersinergi Bangun Daerah
- Polemik Survei di Tuban, Wagub Jatim Minta Sinkronisasi Data Kemiskinan BPS dan Pemkab
- Baguss Gelar Santunan Anak Yatim Syukuran Setahun Khofifah-Emil
- Jatim-Inggris Bahas LRT Surabaya dan Penguatan Kampus Kelas Dunia di KEK Singosari
Emil bersama sang istri memilih melayani permintaan foto tersebut. Namun di sela-sela aktivitas itu salah satu warga berkeluh kesah padanya soal beberapa masalah yang terjadi selama Car Free Day belangsung. “(Nasib pedagang), tolong dikondisikan yang bijaksana,” Kata Agnia, salah seorang penjual jilbab, Minggu (4/3).
Wanita tersebut mengaku selama ini merasa dipersulit dengan sistem yang ada. Berulang kali ia diusir oleh pihak keamanan setempat. “Sekarang ini ada yang jualan tapi diusirin,” katanya.
Menanggapi hal tersebut Emil memberikan beberapa opsi, salah satunya upaya koordinasi antar level pemerintahan.
“Kalau menurut saya CFD tanpa ada penjual juga tidak efisien. Tetapi peraturan memang ada di pemerintah wali kota. Hanya mungkin pemerintah kita ada kebijakan kewenangan dari pusat. Tapi gubernur mungkin bisa melakukan komunikasi dengan bupati atau wali kota. Memahami dulu mengapa mereka mengambil perspektif yang ada. Lalu kita cari tahu, apa yang provinsi bisa bantu,” ucapnya memberi solusi terhadap permasalahan tersebut.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




