Sekolah, Pangan, dan Arsitektur Masa Depan Bangsa

Sekolah, Pangan, dan Arsitektur Masa Depan Bangsa Dr. Romadlon Sukardi, M.M.

Oleh: Dr. Romadlon Sukardi, M.M.

Di tengah banyaknya janji besar tentang masa depan bangsa, kepemimpinan sejati justru diukur dari keberanian menghadirkan perubahan nyata di tingkat paling dasar. Jawa Timur, di bawah kepemimpinan Gubernur , memperlihatkan bagaimana visi besar diterjemahkan menjadi kebijakan yang bekerja—menyentuh sekolah, menggerakkan pangan, dan menyiapkan generasi masa depan secara berkelanjutan. Ketika banyak daerah masih terjebak pada dikotomi antara pendidikan dan ekonomi, Khofifah memadukan keduanya dalam satu arsitektur kebijakan yang utuh dan progresif.

Melalui integrasi pendidikan vokasi dengan sistem ketahanan pangan, halaman sekolah diubah menjadi laboratorium hidup, peserta didik menjadi subjek produksi, dan sekolah menjadi simpul strategis pembangunan.

Pendekatan ini bukan sekadar inovasi sektoral, melainkan bukti kepemimpinan yang memahami bahwa masa depan bangsa dibangun dari ruang-ruang konkret—tempat pengetahuan bertemu kerja nyata, dan kebijakan bertemu keberlanjutan. Inilah fondasi argumen mengapa kepemimpinan Khofifah layak disebut sebagai salah satu model terbaik tata kelola pembangunan daerah di Indonesia, bahkan di panggung global.

Di tengah kegaduhan wacana besar tentang ketahanan pangan dan bonus demografi, Jawa Timur justru menunjukkan bahwa jawaban strategis sering lahir dari ruang-ruang yang selama ini dianggap pinggiran: sekolah.

Apresiasi Gubernur terhadap Program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan (SIKAP) di bukan sekadar pujian seremonial, melainkan penegasan arah politik kebijakan bahwa pendidikan vokasi harus menjadi jantung transformasi ekonomi dan kedaulatan pangan bangsa.

Apa yang dilakukan adalah dekonstruksi atas praktik pendidikan lama yang memisahkan ruang belajar dari realitas produksi. Lahan sekolah yang lazimnya terbengkalai diubah menjadi pusat pertanian, peternakan, dan hilirisasi.

Di titik ini, sekolah tidak lagi berfungsi sebagai menara gading, melainkan sebagai simpul ekosistem pangan lokal yang hidup, produktif, dan terhubung dengan pasar. Inilah politik ruang yang cerdas: mengubah aset diam menjadi modal strategis pembangunan.

Konsep living laboratory yang diterapkan—kandang ternak yang bersih, sistem breeding, hingga monitoring 24 jam—menandai lompatan epistemik dalam pendidikan. Siswa tidak lagi sekadar “belajar tentang”, tetapi “belajar dengan” dan “belajar melalui”.

Model learning by doing ini membentuk etos kerja, disiplin industri, dan kepekaan kewirausahaan sejak dini. Pendidikan tidak lagi mencetak pencari kerja, tetapi perancang nilai tambah.

Yang membuat inovasi ini naik kelas adalah keberanian mengikatkan sekolah dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Kehadiran off-taker memastikan bahwa produk siswa tunduk pada standar korporasi, bukan standar semu akademik. Ini adalah politik keberpihakan pada mutu: siswa SMK diperlakukan sebagai subjek ekonomi yang sah, bukan sekadar objek pelatihan. Ketika lulus, mereka tidak mengalami culture shock, karena dunia kerja telah mereka jalani sejak di sekolah.

Lebih jauh, keberhasilan sektor pertanian dan hilirisasi di menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan isu teknis semata, melainkan desain sistemik. Pendidikan, produksi, pasar, dan regulasi harus berada dalam satu tarikan napas kebijakan. Dalam konteks ini, dorongan Gubernur Khofifah agar sekolah berstatus BLUD adalah langkah politik-administratif yang visioner: memberi otonomi agar inovasi tidak mati oleh birokrasi.

Lihat juga video 'Emak-emak di Surabaya Kecewa Tak Bisa Foto Bareng Jokowi':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO