Ilustrasi. Foto: Ist
BANGSAONLINE.com - BPS memperkirakan puncak inflasi Ramadhan tahun ini akan jatuh pada Maret 2026. Hal tersebut dipengaruhi awal bulan suci yang diperkirakan berlangsung pertengahan Februari 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Puji Ismartini, menjelaskan waktu dimulainya Ramadhan berpengaruh pada pola inflasi.
"Jika dimulai sejak awal bulan, biasanya inflasinya akan mengumpul dalam satu bulan penuh," ujarnya.
Sebaliknya, jika Ramadhan dimulai pertengahan atau akhir bulan, inflasi akan terbagi.
"Pola ini terlihat konsisten dalam data inflasi lima tahun terakhir," kata Puji.
Ia mencontohkan, pada 2023 Ramadhan dimulai 23 Maret sehingga puncak inflasi terjadi pada April. Sementara pada 2025, Ramadhan dimulai 1 Maret dan inflasi bulanan tercatat 1,65 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir.
"Ini karena pengaruh Ramadhan yang berlangsung satu bulan penuh," tuturnya.
Puji menambahkan, pola historis perlu menjadi acuan dalam membaca inflasi Ramadhan 2026.
Sementara itu, Sekjen Kemendagri, Tomsi Tohir, mengingatkan inflasi selalu naik menjelang Lebaran.
"Kita sudah mengalami tahun ke tahun setiap mau Lebaran harga-harga pasti naik. Kalau kenaikannya wajar saja tentu tidak masalah, tetapi seringkali naik tinggi," ucapnya.
Tomsi menyebut inflasi bulanan normal berada di kisaran 0,3 persen. Namun saat Lebaran 2025, inflasi melonjak hingga 1,6 persen atau lebih dari 5 kali lipat.
Kenaikan terjadi hampir di seluruh komoditas, bahkan beberapa harga melonjak tiga hingga empat kali lipat. Karena itu, Tomsi menegaskan pemerintah akan mencegah kenaikan harga yang tidak wajar.
"Pengendalian alam dilakukan menjelang dan selama periode Lebaran," pungkasnya. (rom)






