Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Kinerja ekonomi yang solid berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat. Angka kemiskinan per Maret 2025 turun menjadi 9,5 persen, sementara kemiskinan ekstrem menurun drastis dari 4,40 persen (2020) menjadi hanya 0,66 persen (2024).
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) juga menurun hingga 3,61 persen pada Februari 2025, lebih rendah dari rata-rata nasional. Kontribusi UMKM terhadap perekonomian Jawa Timur mencapai lebih dari 60 persen, menunjukkan bahwa ekonomi kerakyatan tumbuh kokoh di bumi Majapahit.
Pemerataan pembangunan menjadi prioritas utama. Jawa Timur kini memiliki 4.716 Desa Mandiri, jumlah tertinggi secara nasional, dan telah membentuk 8.494 koperasi melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), dengan 204 koperasi sudah beroperasi aktif.
Di bidang infrastruktur, konektivitas terus diperkuat melalui 37 pelabuhan, 7 bandara, 12 ruas jalan tol, 13 kawasan industri, 2 kawasan ekonomi khusus (KEK), dan 1 kawasan industri halal. Layanan Transjatim kini menjangkau tujuh koridor, termasuk rute baru Lamongan-Dukun-Paciran.
Sektor pendidikan juga menunjukkan kemajuan, dengan Jawa Timur menjadi provinsi dengan jumlah Sekolah Rakyat terbanyak di Indonesia, yakni 26 sekolah dengan 2.450 siswa.
Kerja sama internasional diperluas melalui kolaborasi dengan King’s College London di KEK Singhasari dan Western Sydney University di Surabaya, guna memperkuat SDM berdaya saing global.
Di bidang kesehatan, terdapat 40,5 juta penduduk telah terdaftar sebagai peserta JKN. Sebanyak 24 dari 38 kabupaten/kota telah mencapai Universal Health Coverage (UHC), didukung oleh 976 Puskesmas (99,7 persen terakreditasi) dan 443 Rumah Sakit (98 persen terakreditasi).
Dalam tata kelola pemerintahan, Indeks Reformasi Birokrasi Jawa Timur mencapai 93,82 (A–), dan Indeks Pencegahan Korupsi versi KPK RI menempatkan Jawa Timur di posisi kedua nasional. Capaian ini menunjukkan birokrasi yang semakin transparan, efisien, dan berintegritas.
Sebagai Lumbung Pangan Nasional, Jawa Timur menyumbang 17,44 persen produksi padi nasional atau setara 9,27 juta ton GKG (2024), serta unggul dalam komoditas jagung, tebu, daging sapi, telur, dan perikanan.
Komitmen terhadap ekonomi hijau juga diperkuat, dengan Jawa Timur menempati peringkat pertama nasional dalam implementasi industri hijau dan ekonomi berkelanjutan. Hal ini tercermin dari Indeks Kualitas Lingkungan Hidup sebesar 71,23 dan penurunan Indeks Risiko Bencana menjadi 95,75.
Sejak Maret 2025, Jawa Timur telah meraih 60 penghargaan nasional, termasuk Juara Umum Lomba Kompetensi Siswa Nasional selama tiga tahun berturut-turut (2023-2025), serta predikat Pelayanan Prima PEKPPP 2024 sebagai penyelenggara pelayanan publik.
Gubernur perempuan pertama di Jawa Timur ini menegaskan pentingnya menjaga stabilitas dan kondusivitas daerah sebagai prasyarat keberlanjutan pembangunan.
“Kita sudah punya semua modal ekonomi, infrastruktur, SDM, dan stabilitas. Tinggal menjaga semangat kebersamaan dan integritas,” ucapnya.
Khofifah mengajak seluruh elemen masyarakat, DPRD, Forkopimda, TNI, Polri, akademisi, dunia usaha, hingga komunitas masyarakat untuk memperkuat sinergi, kolaborasi, dan empati sosial.
“Kondusivitas adalah fondasi pertumbuhan. Penyampaian aspirasi masyarakat harus damai, tidak destruktif, dan tetap menjaga harmoni sosial,” tuturnya.
Sementara itu, Prof. Mohammad Mahfud MD dalam pidato kuncinya menegaskan bahwa Jawa Timur merupakan tonggak utama berdirinya NKRI, tempat lahirnya para ulama, pemikir, dan pejuang besar bangsa.
“Jawa Timur memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan kemerdekaan dan menjaga keutuhan NKRI. Karena itu, seluruh elemen masyarakat Jawa Timur harus terus menjaga akhlak, keberagaman, semangat perjuangan, serta kejujuran dalam setiap langkah pembangunan,” paparnya. (dev/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




