Idris, Juru Pelihara Arca Totok Kerot (kiri) dibantu dua rekannya saat membersihkan arca Totok Kerot. Foto: MUJI HARJITA/ BANGSAONLINE
Eko menyebut, bahwa Arca Totok Kerot juga memiliki legenda di masyarakat. "Ini juga ingin ditampilkan oleh juru pelihara, menjadi bagian penting dalam pelestarian kebudayaan secara umum," katanya.
"Arca Totok Kerot ini juga memiliki nilai-nilai lain selain aspek cagar budaya. Momentum ini sangat baik untuk mengenalkan kepada generasi muda, bahwa selain sebuah arca yang berbentuk patung raksasa Duarlapala, ada pesan moral dari cerita rakyat yang terkandung dalam arca ini," terangnya.
Di dalam cerita foklor, lanjut Eko, arca ini diceritakan sebagai putri cantik dari daerah selatan yang ingin melamar Raja Kediri Sri Aji Joyoboyo. Tapi perangainya yang kurang santun, maka Sri Aji Joyoboyo marah atau murka dan mengutuknya menjadi patung.
"Ada pesan moral bahwa dalam hidup, kita harus andap asor dan menjunjung tinggi sopan santun," urainya.
Totok Kerot merupakan tokoh perempuan dalam cerita rakyat yang tersebar di sekitar Kediri. Sedangkan nama asli Totok Kerot adalah Dewi Surengrana yang berasal dari Blitar.
Totok Kerot adalah sebutan untuk Dewi Surengrana karena sifatnya yang buruk. Menurut ceritanya, Totok Kerot itu sebelumnya adalah seorang perempuan yang sangat cantik dan berbau sangat harum.
Waktu itu, sang putri datang ke Pamenang dengan maksud untuk melamar Raja Kediri Sri Aji Jayabaya yang sangat tersohor kedigdayaannya. Namun sayang, Raja Jayabaya menolak.
Karena sang putri tetap nekad, maka terjadilah perang. Singkat cerita, sang putri akhirnya kalah dan disabda oleh Sang Raja menjadi arca berbentuk raksasa perempuan. (uji/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




