Logo Muhammadiyah. Foto: wikipedia
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Sejumlah anak muda menuju ke sebuah masjid yang dikenal menerapkan paham Muhammadiyah di Surabaya, Jumat (6/6/2025). Tiba di mulut gang mereka bertemu dengan “panitia” penyembelihan hewan kurban. Para “panitia” itu sedang duduk santai dan bergerombol di warung. Sebagian sibuk mengurus daging hewan kurban yang baru disembelih.
Melihat ada anak-anak muda yang mau jumatan ke masjid tersebut, salah seorang yang juga ikut menangani hewan kurban, memberi tahu kalau jumatan di masjid tersebut “libur”. Alasannya, bertepatan dengan shalat Idul Adlha yang jatuh pada hari Jumat. Cukup shalat dzuhur saja.
“Gak ada jumatan, Mas,” kata orang tersebut kepada anak-anak muda itu.
Anak-anak muda yang mengenakan sarung tanpa kopyah itu akhirnya berbalik arah. Mereka menuju masjid NU yang terletak di gang sebelah di kawasan kampung tersebut. Mereka akhirnya shalat jumat di masjid tersebut.
Peristiwa ini menarik. Karena masjid ini dikelola orang-orang berpaham Muhammadiyah, tapi secara politik berafiliasi ke Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Muhammadiyah tentang Idul Adlha yang jatuh pada hari Jumat? Apakah shalat Jumat-nya "libur" cukup shalat dzuhur?
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Yayuli, menyatakan bahwa dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW memang pernah memberikan keringanan untuk tidak melaksanakan salat Jumat setelah salat Id, terutama bagi jamaah yang tinggal jauh dari masjid. Namun, kata Yayuli, konteks kekinian berbeda.






