Warga Mengare Komplek, Kecamatan Bungah, saat demo di depan Smelter PT Freeport Indonesia. Foto: Ist
Sementara itu, salah satu warga, Sahroni, menyebut pembangunan kawasan JIIPE sangat berdampak bagi warga Mengare Komplek yang keseharian bekerja sebagai nelayan dan petambak. Mereka yang terdampak dijanjikan diprioritaskan bekerja di Smelter PTFI yang sudah mulai beroperasi.
"Kami menuntut hak-hak kita sebagai warga Mengare disejahterakan dengan adanya smelter. Karena kami beranggapan sebagai warga lokal, terutama berada di ring satu, penyerapan tenaga kerjanya harus besar. Sampai saat ini belum kami rasakan," paparnya.
Dengan adanya demo ini, ia berharap ada solusi melalui mediasi antara kedua belah pihak. Apabila mediasi tidak tercapai, tidak menutup kemungkinan warga akan menggelar demo lagi dengan massa yang lebih banyak.
"Ketika aspirasi sudah kita sampaikan ke PT Freeport, tetapi nanti tidak ada mediasi, maka kita akan bawa massa yang lebih besar lagi. Kita buktikan bahwasanya kalau kita ini warga lokal yang kompak," ucapnya.
Sementara itu, Vice President (VP) Corporate Communications PTFI, Katri Krisnati, menyatakan pihaknya senantiasa mematuhi ketentuan dari pemerintah provinsi dan daerah mengenai prioritas tenaga kerja dari desa sekitar perusahaan yang telah memenuhi kualifikasi, dan spesifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan.
"PTFI terbuka kepada setiap perusahaan lokal yang ingin bekerja sama dan berkontribusi dalam operasional Smelter dengan melewati proses kualifikasi, verifikasi, dan evaluasi," katanya. (hud/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




