Tari Dwimuka Ardhanareswari yang dibawakan dengan apik oleh sang maestro tari Didik Nini Thowok. Foto: Ist.
Sedangkan, Jero Wayan Suranta, Penanggung Jawab Pura Dalem Calonarang, menjelaskan bahwa Ratu Calonarang/Ratu Girah ini sebenarnya sangat banyak sisi baiknya. Seperti bisa menyembuhkan penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan oleh medis.
“Saya asli Bali dan mendapat anugerah pernah ditolong oleh Ratu Calonarang. Istri saya koma dan kemudian sembuh setelah saya bertemu dengan beliau (dalam mimpi)," kata Jero Wayan.
Kemudian, lanjut Jero, ia mencari di mana Ratu Calonarang itu berada dan ternyata ada di Situs Calonarang di Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.
"Setelah saya sowan, beliau ingin disempurnakan di tempat yang baru di Kediri dan tempat itu kita bangun Pura Calonarang berada di Putuk Kandangan Kabupaten Kediri," kata dia.
Atas amanat Ratu Calonarang pada 2017, Jero lalu membangun Pura Calonarang tersebut sebagai tempat penyempurnaan Ratu Calonarang / Nyi Girah / Ratu Girah.
Menurut dia, Ratu Calonarang ini milik Kabupaten Kediri yang harus dipertegas. Selain itu juga perlu dibersihkan nama Ratu Calonarang. Ada tiga hal, pertama bahwa Walu Nata ing Dirah / Ratu Calonarang bukan rajanya ratu hitam / raja ilmu leak.
"Kedua, Ratu Calonarang bukanlah janda, karena beliau adalah istri dari Mpu Kuturan. Ketiga, sebutan Ratu Dirah harus diluruskan sesuai yang berkembang di Kediri, yakni Ratu Girah yang kemudian menjadi toponim wilayah saat ini, yakni Gurah Kabupaten Kediri," jelasnya.
Jero melanjutkan, menculnya hal jelek kepada Ratu Calonarang itu tak lebih karena faktor politik di era kekuasaan Raja Kahuripan Airlangga yang memilki darah Bali dan berkuasa di Dhaha Kediri dengan Ibu Kota Dhahanapura yang kekuasannya berakhir pada tahun 1042. (uji/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




