Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin menyerahkan dokumen kepada Gus Azmi disaksikan oleh Habib Luthfi bin Yahya serta KH Sholeh Qosim (kiai sepuh), saat meresmikan berdirinya Stibada MASA. foto: istimewa
TIDAKLAH berlebihan jika pujian disematkan terhadap Masjid Agung Sunan Ampel (MASA) Surabaya dalam perjuangannya mendirikan sebuah lembaga pendidikan. Berbagai penolakan serta janji-janji yang tidak kunjung nyata mewarnai proses berdirinya lembaga pendidikan yang berada di lingkungan Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya ini.
Sejak orde baru berkuasa hingga datangnya masa reformasi yang disebut-sebut sebagai era kebebasan dari belenggu orde baru pun masih belum bisa menemukan titik terang terkait pendirian sekolah di Masjid Ampel ini.
BACA JUGA:
- Zakat Rp16 M Yayasan Cheng Hoo Mengalir ke 32 Ribu Warga, Ning Lia: Potensi Besar Modal Usaha
- Pemkot Surabaya Intensifkan Sidak Pasar, Pastikan Harga Terkendali dan Stok Aman Jelang Ramadhan
- Lewat #KataKitaUntag, Untag Surabaya Hadirkan Ruang Digital di Media Sosial
- Berbagi Kebahagiaan di Bulan Ramadan, Wartawan Grahadi Ajak Anak Yatim Ngabuburit Lihat Satwa di KBS
“Setelah puluhan tahun LPBA MASA eksis dan berhasil mencetak para alumni yang sukses dalam berbagai bidang, terutama bidang pengajaran bahasa arab dan dakwah serta dorongan dari para ulama, umara dan para pecinta Sunan Ampel maka pada tahun 2017 resmi berdiri Sekolah Tinggi Bahasa Arab dan Dakwah Masjid Agung Sunan Ampel (Stibada MASA) Surabaya,” terang Taufik Rahman, Pengurus Stibada MASA.
Stibada MASA baru saja diresmikan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, bersamaan dengan Haul Sunan Ampel ke- 568, Sabtu (13/5) lalu. Pendaftaran untuk menjadi mahasiswa Stibada MASA sudah dibuka mulai awal Mei hingga akhir Juli 2017.
“Hingga saat ini, sudah ada sembilan calon mahasisiwa yang sudah mendaftar. Untuk pemberian gelar sama seperti sekolah tinggi yang lain, mahasiswa-mahasiswi yang lulus Stibada MASA ini juga berhak menyandang gelar sarjana strata 1 (S1),” tutur pria yang juga mengurusi LPBA MASA ini.
Berdirinya lembaga pendidikan bahasa arab Masjid Agung Sunan Ampel (MASA) tidak terlepas dari perjuangan Almaghfurlah KH Nawawi Muhammad, Ta’mir Masjid Ampel tahun 1970. Ulama yang akrab disapa Kiai Nawawi itu memiliki cita-cita salah satunya adalah mengembangkan model perjuangan Sunan Ampel bukan dalam bentuk pendidikan informal.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




