JOMBANG, BANGSAONLINE.com-Ingin napak tilas sejarah NU dan Islam? Silakan agendakan berkunjung ke Museum Islam Nasional KH M Hasyim Asy’ari (disingkat MINHA) di Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur. Di museum yang berdiri megah di belakang persis Pesantren Tebuireng ini sejarah perjalanan NU dan Islam Nusantara dipajang sedemikian lengkap.
Dibangun dengan arsitektur yang unik dan antik, bangunan Museum Kiai Hasyim Asy'ari itu tampak sangat elegan dan indah. Legacy KH Ir Salahuddin Wahid (Gus Sholah) saat menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng itu kini banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Tentu termasuk dari luar negeri.
Museum Islam KH Hasyim Asy'ari ini merupakan distinasi wisata religi yang sangat layak dan bermanfaat dikunjungi. Terutama para siswa-siswi dan mahasiswa-mahasiswi. Pantauan BANGSAONLINE, memang banyak sekali rombongan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah mengunjungi museum yang menggambarkan perkembangan Islam Nusantara itu. Mereka menjadikan museum Islam Kiai Hasyim Asy’ari itu sebagai wisata ilmu pengetahuan terutama tentang sejarah Islam Nusantara.

Salah satu sisi Museum Islam Nasional KH Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang Jawa Timur. Dr KH Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan) foto dengan background para masyayikh NU dan para pejuang serta pahlawan nasional Indonesia. Foto ini diambil sebelum beliau menjadi Menteri Haji dan Umrah RI. Foto: Gus Irfan.Foto: Gus Irfan
Tak usah mikir tempat parkir, meski Anda membawa bus. Sebab area parkir musem ini sangat luas. Bahkan saking luasnya area parkirnya mirip terminal bus antar provinsi. Maklum, area parkirnya jadi satu dengan Wisata Religi Makam Gus Dur.
Nah, Anda juga bisa sekaligus berziarah ke makam Gus Dur, presiden ke-4 Republik Indonesia. Makam Gus Dur satu kawasan dengan makam Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri organisasi terbesar Nadlatul Ulama (NU) yang juga pendiri Pesantren Tebuireng. Hadratussyaikh juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan RI dan pahlawan nasional.
Juga makam KH A. Wahid Hasyim, The Founding Fathers Republik Indonesia. Kiai Wahid Hasyim adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Ayahanda Gus Dur itu juga termasuk Panitia Sembilan yang tergabung dalam kelompok kecil yang merumuskan Piagam Jakarta dan dasar negara Pancasila.
Bangunan museum Kiai Hasyim Asy’ari itu terdiri dari tiga lantai dan menempati di atas tanah seluas 4,9 hektare.
Apa keistimewaanya? Di dekat pintu masuk Anda bisa bercengkrama dengan replika Gus Dur. Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, banyak sekali wisatawan yang memanfaatkan replika Gus Dur untuk selfi atau berswafoto.

Dr KH Mochammad Irfan Yusuf (Gus Irfan) foto dengan backround Bung Tomo. Foto ini diambil sebelum beliau menjadi Menteri Haji dan Umrah RI. Foto: Gus Irfan.
Replika Gus Dur itu didesain secara apik. Replika Gus Dur duduk di sebuah kursi lalu di sebelahnya disediakan kursi kosong yang dipisah oleh meja kecil. Jika pengunjung duduk di kursi kosong itu, maka ia seperti sedang bercengkrama dengan Gus Dur. Karena itu para pengunjung selalu memanfaatkan replika Gus Dur itu unduk foto bersama dengan berbagai pose.
Setelah melewati pintu masuk, para wisatawan mulai menjumpai berbagai pemandangan menarik. Mereka akan bejumpa dengan berbagai aneka wajah Gus Dur dan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari.
Tampak juga Bung Tomo sedang naik sepeda. Ini menggambarkan perjuangan heroik peristiwa 10 November di Surabaya. Dalam pertempuan 10 November itu Hadratussyaikh memang menjadi tokoh utama yang menjadi pengambil keputusan untuk menyerang. Bung Tomo sering datang ke Pesantren Tebuireng untuk berkonsultasi dengan Hadratussyaikh. Maka lahirlah fatwa Resolusi Jihad dari Hadratussyaikh. Yang intinya berperang melawan penjajah dihukumi mati syahid jika meninggal dunia. Bahkan semua orang Islam yang berada dalam jajak 97 kilometer dari area pertempuran hukumnya wajib atau fardlu ain ikut berperang melawan agresi Inggris yang diboncengi Belanda itu.
Di ruangan itu tampak foto Gus Dur ukuran besar sambil mendengarkan music pakai headphone.
Di ruang itu juga tampak koleksi tokoh utama Hadratussyaikh. Antara lain tongkat dan kitab rujukan. Yang juga menarik ada ruang khusus Presiden RI ke-4 K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Namun khusus tongkat Hadratussyaikh berupa replika.
"Yang asli saya simpan," ujar Gus Riza Yusuf Hasyim, putra KH M Yusuf Hasyim, kepada BANGSAONLINE.
Kenapa? Tentu demi keamanan tongkat tersebut. Selain tongkat, yang disimpan oleh Gus Riza adalah tasbih yang biasa dibuat wirid oleh Hadratussyaikh.
Saat KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) terpilih sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Riza menyerahkan tongkat dan tasbih peninggalan Hadratussyaikh itu kepada Gus Kikin.

M. Mas'ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE dizinkan Gus Riza Yusuf (baju putih kanan) memegang tongkat asli Hadratussyaikh di kediamannya di kawasan Tebuireng Jombang Jawa Timur.
Tampak juga jubah Hadratussyaikh, dan beberapa benda berharga lainnya. Museum ini juga dilengkapi fasilitas penunjang, yaitu ruang audio visual untuk edukasi sejarah secara audio-visual bagi pengunjung. Para wisatawan pun bisa menikmati dengan rileks dan senang.
Di lantai dua para pengunjung bisa melihat dari dekat ratusan artefak dan bukti sejarah masuknya Islam ke nusantara abad 11-19 masehi. Bukti-bukti sejarah itu diatur sesuai alur masuknya Islam di berbagi wilayah, baik di Jawa maupun luar Jawa. Juga disuguhkan produk kebudayaan khas masing-masing dari berbagai daerah.
Di musem Kiai Hasyim Asy’ari itu juga ditampilkan replika batu nisan Fatimah Binti Maimun, mahkota Raja Kesultanan Banten, meriam era Sultan Iskandar Muda, hingga miniatur Istana Kadriah. Menarik sekaligus menakjubkan.
Juga dipajang ratusan koleksi berupa naskah kuno, kitab keagamaan, prasasti, mata uang Islam, hingga replika benda bersejarah lainnya. Bahkan juga ada meriam, alat perang saat penjajah. Ya, asyik sekali menonton berbagai benda kuno itu.
Lalu bagaimana dengan kitab-kitab Hadratussyaikh? Kitab-kitab Hadratussyaikh banyak disimpan di perpustakaan KH A Wahid Hasyim Tebuireng. Anda bisa membaca kitab-kitab secara tenang di perpustakaan yang cukup luas itu. Hanya saja tempatnya di kawasan dalam Pesantren Tebuireng.
Museum Islam Nasional KH Hasyim Asy’ari itu berdiri dari gagasan KH Ir Salahuddin Wahid (Gus Sholah) saat menjadi pengasuh Pesantren Tebuireng. Pada Maret 2010 Gus Sholah menyampaikan usulan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pembangunan fisik dan perencanaannya berlanjut pada tahun-tahun berikutnya hingga akhirnya diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 18 Desember 2018.
“Mueum ini masih terbuka bagi semua orang untuk menyumbangkan benda-benda berharga yang akan diwakafkan, terutama benda-benda berharga Hadratussyaikh,” ujar Gus Sholah suatu ketika.
Gus Sholah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekitar 13 hingga 14 tahun. Tepatnya sejak 2006 hingga wafat pada Februari 2020.
Museum Kiai Hasyim Asy’ari ini buka mulai Selasa hingga Ahad, sejak pukul 08.00 hingga 15.30 WIB. Silakan kontak humas: 081249843506. (M. Mas’ud Adnan)










