Dari Gus Dur ke Gus Kikin: Menjaga Khittah 1926 NU di Era Algoritma

Oleh: Masduki Baidlowi (Aktivis NU, salah satu pendiri NU Online)

Perjalanan NU sering kali bergerak dalam siklus sejarah kepemimpinan yang berani. Di era Orde Baru, KH. Abdurrahman Wahid — akrab dipanggil Gus Dur — dengan nyalinya yang kuat membawa NU keluar dari arena politik praktis yang tersub-ordinasi oleh rezim otoritarian Orde Baru,  untuk menemukan kembali sukma NU yang lama hilang.

Cucu Mbah Hasyim Asy’ari ini  dengan visinya yang tajam  berhasil mentransformasi organisasi Islam terbesar di dunia itu, tak hanya sebatas menumbuhkembangkan Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagai ajaran yang kompatibel dengan konsep kebangsaan dan sistem politik demokrasi, lebih dari itu Gus Dur juga berhasil menjadikan NU sebagai pilar civil society yang amat disegani. Di tangan beliau, “konsep NU kembali ke Khittah 1926”, tak hanya dijadikan senjata kultural untuk mengingatkan rezim otoritarian Orde Baru agar NU sebagai salah-satu pendiri republik  jangan diacak-acak, tetapi NU berhasil dijadikan kekuatan yang tumbuh sebagai pendamping negara yang kritis dan tajam. NU menjadi kompas moral yang bersuara nyaring ketika tata kelola negara dianggap melenceng dari cita-cita luhur pendiri bangsa.

Catatan gemilang lainnya: kekuatan duet Gus Dur-KH Achmad Siddiq (Rais ‘Aam) secara gradual berhasil menggiring umat Islam dari yang semula berjuang secara tersurat bercita-cita ingin mendirikan negara Islam sebagai alternatif gerakan, akhirnya menjadi gerakan tersirat dengan cara mengintegrasikan perjuangannya  bersama  kelompok kebangsaan untuk lebih berfokus pada tegaknya kesejahteraan dan keadilan dalam bingkai NKRI. Inilah catatan sejarah di abad pertama.

Kini, setelah Muktamar ke-35 usai, NU memasuki babak baru di abad keduanya. Nahkoda baru NU kini berada di tangan KH. Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, yang tak lain adalah cicit dari Mbah Hasyim Asy’ari.

Gus Kikin punya “senjata ampuh” yang sudah dikampanyekan ke mana-mana sebelum terpilih menjadi Ketum PBNU. Yaitu, menjadikan dokumen Qanun Asasi (AD/ART) lengkap yang ditulis langsung oleh  kakek buyutnya Mbah Hasyim Asy’ari pada 1926 sebagai pedoman menahkodai PBNU ke depan.

Gus Kikin tentu akan membawa NU  dengan tantangan dan warna yang berbeda. Latar belakangnya yang matang di dunia bisnis dan penguasaannya di bidang manajemen modern menjadi bekal strategis bagi dirinya. Hanya saja, tantangan yang dihadapi Gus Kikin tak lagi sama dengan era kepemimpinan Gus Dur. Jika Gus Dur bertarung melawan otoritarianisme Orde Baru seperti yang diceritakan di atas, salah-satu tantangan serius yang dihadapi Gus Kikin adalah tantangan yang lebih abstrak. Bukan tantangan fisik: disrupsi digital. Sekarang hampir semua aspek kehidupan dunia (sosial, politik, ekonomi, agama) dikendalikan oleh algoritma, kecerdasan buatan (AI), serta generasi muda yang kian asing dengan pola dakwah konvensional.

Namun, esensi perjuangannya tetap satu: menjaga, merawat dan menumbuhkembangkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dengan berbasis algoritma digital tadi. Artinya, tantangan besar NU di abad kedua di bawah kepemimpinannya adalah menerjemahkan keramahan, kemandirian, dan kedalaman tradisi Aswaja ke dalam bahasa zaman. Manajemen modern dan teknologi digital bukan untuk menggerus identitas NU, melainkan menjadi "papan selancar" untuk mengarungi samudera disrupsi. Nilai-nilai tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan tawazun (seimbang) kini harus hadir dalam narasi digital yang presisi, disenangi anak muda, responsif, dan relevan dengan generasi AI.

Jika Gus Dur berhasil membuat jembatan kultural untuk menjadikan ajaran Aswaja kompatibel dengan nilai demokrasi, sesuai dengan konsep kebangsaan, maka Gus Kikin berpeluang membuktikan bahwa doktrin Aswaja mampu memandu arah peradaban digital. NU di bawah kepemimpinannya tidak boleh gagap zaman. NU harus tetap menjadi garda depan penjaga nalar jernih republik, baik di alam nyata maupun di dalam lalu lintas dakwah berbasis algoritma. Wallahu A’lam bis Shawab