KH Achmad Siddiq, Rais Aam dan Konseptor Jenius: Harus Ada Kiai Bersorban saat Rapat NU

Oleh: M. Mas'ud Adnan

PBNU dalam era kepemimpin KH Achmad Siddiq dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan periode yang sangat hebat. Pada era inilah self dignity (martabat diri) anak-anak muda NU tumbuh pesat. Orang yang semula ragu dan malu mengaku NU berbalik 180 derajat bangga sebagai warga NU. Di kampus-kampus negeri favorit pun semangat ber-NU gegap gempita.

Saya masih duduk di kelas II Madrasah Aliyah Tebuireng ketika Muktamar ke-27 NU pada 1984 digelar di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur. Saya mengikuti informasi muktamar NU yang dihadiri Presiden Soeharto dan para menteri itu lewat koran atau surat kabar yang dipajang di halaman masjid Pesantren Tebuireng. Koran itu antara lain: Jawa Pos, Kompas, Merdeka, dan Pelita.

Saat itu pengasuh Pesantren Tebuireng adalah KH Muhammad Yusuf Hasyim. Yakni Putra Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri NU dan juga pendiri Pesantren Tebuireng.

Kiai Yusuf Hasyim merupakan salah satu tokoh penting di NU saat itu. Kiai Yusuf Hasyim pernah menjabat Sekretaris Jenderal PBNU pada 1967-1971.

Muktamar ke-27 NU itu menghasilkan duet kepemimpinan KH Ahmad Shidiq sebagai Rais Aam Syuriah PBNU dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU.

Salah satu tokoh kunci Muktamar ke-27 NU 1984 itu adalah KH R As’ad Syamsul Arifin. Seperti ditulis Drs Choirul Anam (Cak Anam) pada 2019, dalam sidang pemilihan yang dipimpin KH Masjkur, muktamirin sepakat memilih Kiai As’ad Syamsul Arifin sebagai Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) Tunggal.

Kiai As’ad langsung merespons.

“Saya ini sudah tua, 87 tahun. Mata ini sudah kabur, pandangan juga sudah berkurang. Gigi saya pun sudah habis belum ada gantinya,” ujar Kiai As’ad.

Pernyataan Kiai As’ad langsung disambut tawa para kiai dan muktamirin.

“Ya, beginilah keadaan orang yang sampean pilih, sampean percaya. Apa sampean semua sudah setuju?,”tanya Kiai As’ad kepada muktamirin.

Para kiai dan muktamirin langsung serempak menjawab: Setujuuuuu!

Konsep Ahwa itu sebelumnya dipaparkan oleh KH Ahmad Shidiq di depan para kiai dan muktamirin. Secara gamblang Kiai Achmad Shidiq memaparkan proses wafatnya Rasulullah SAW yang tertahan sampai dua hari belum ada penggantinya. Kiai Achmad Shidiq kemudian menguraikan tentang mekanisme pemilihan Khalifah di zaman sahabat Nabi.

Dari uraiannya yang panjang lebar, Kiai Achmad Siddiq kemudian berkesimpulan bahwa Ahwa yang paling cocok untuk NU adalah memilih seorang Ahwa. Lalu seorang Ahwa terpilih itu memilih 6 anggota Ahwa untuk membantu menyusun pengurus PBNU.

Setelah mendengar paparan Kiai Achmad Siddiq itu, Kiai Masjkur sebagai pemimpin sidang menawarkan kepada para muktamirin: Apakah muktamirin sepakat dengan model Ahwa yang dikemukakan Kiai Achmad Siddiq? Muktamirin secara gemuruh mengatakan: setujuuuuu.

Kiai As’ad kemudian menunjuk enam kiai sebagai anggota Ahwa. Yaitu KH Ali Ma’shum, KH Machrus Aly, KH Masjkur, KH Achmad Siddiq, KH Saifuddin Zuhri, dan Kiai Munasir Ali.

Tujuh kiai itu sepakat menetapkan Kiai Achmad Siddiq sebagai Rais Aam dan Gus Dur sebagai ketua umum PBNU.

Alhasil, tujuh kiai kharismatik yang dikenal berintegritas dan moralitas kuat itu telah menetapkan duet pemimpin NU yang juga penuh integritas dan moralitas serta basis intelektualitas yang kuat. Tak aneh, jika PBNU periode Kiai Achmad Siddiq-Gus Dur itu langsung melesat dan bermartabat. Anak-anak muda yang semula malu mengaku NU berbalik 180 derajat. Mereka merasa bangga sebagai kader NU.

Saya masih ingat. Rapat pleno perdana PBNU hasil Muktamar ke-27 NU 1984 itu digelar di Pesantren Tebuireng. Tepatnya di ruangan bawah gedung Madrasah Aliyah yang sore harinya biasa dipakai kuliah Universitas Hasyim Asy’ari. Ruangan itu bersebelahan persis dengan perpustaan KH A Wahid Hasyim.

Bagi saya ini sangat historis. Muktamarnya digelar di pesantren dan rapat pleno perdananya juga digelar di pesantren. Bukan di gedung PBNU. Apalagi di hotel.

Saat itu saya belum mengerti NU. Tapi saya suka sekali membaca buku atau tulisan tentang NU. Maka saya tertarik sekali dengan rapat pleno PBNU yang diikuti para kiai besar dan kharismatik itu.

Saya pun mengintip rapat pleno PBNU perdana hasil Muktamar ke-27 NU itu dari balik jendela ruangan. Kebetulan jendelanya terbuat dari kaca dan terbuka. Sehingga saya bisa melongokkan kepala. 

Percakapan kiai besar itu terdengar jelas. Maklum, jarak jendela tempat saya mengintip dengan tempat duduk para kiai itu sangat dekat. Salah satu suara kiai yang saya dengar dan saya ingat sampai sekarang adalah suara Kiai Achmad Siddiq. Kiai yang dikenal memiliki pemikiran modern itu minta agar tiap rapat PBNU, terutama Syuriah, ada kiai yang pakai sorban sebagai identitas kultural Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU).

Saat itu saya, yang masih remaja sempat berpikir, ah kok kolot. Saat itu saya memang sedang ganderung-ganderungnya modernisasi. Gemar baca buku-buku sosial dan keagamaan kontemporer. Bahkan kalau sekolah saya tak pakai kopiah.

Belakangan saya baru paham usulan Kiai Achmad Siddiq tersebut. Ada kontekstualisasi situasi dalam era kepemimpin Kiai Achmad Siddiq-Gus Dur. Banyak professional, intelektual muda dan akademisi, mulai masuk ke dalam PBNU. Mereka terbiasa mengenakan pakaian modern seperti setelan jas, celana, dasi, batik dan sebagainya. Maka NU perlu menjaga identitas kultural dan nuansa kepesantrenan dalam struktural jam’iyah.  

Dengan demikian, meski NU berkembang menjadi organisasi modern tapi tidak kehilangan jati diri sebagai jam’iyah para ulama pesantren. Atribut sorban di tengah-tengah peserta rapat yang berpakaian modern menjadi simbol visual bahwa tradisi salaf dan pemikiran modern dapat berjalan beriringan di NU.

Sebagai ulama pesantren, Kiai Achmad Siddiq tidak hanya menguasai ilmu agama tapi juga memiliki wawasan budaya sangat luas. Saya pernah mendengarkan langsung pidato Kiai Achmad Siddiq tentang keislaman dan kebudayaan beberapa bulan setelah pleno PBNU itu. Kiai Yusuf Hasyim mengundang Kiai Ahmad Siddiq sebagai penceramah dalam acara di Pesantren Tebuireng. Kiai Achmad Siddiq saat itu menguraikan secara gamblang dialektika keislaman dan kebudayaan.

Kiai Achmad Siddiq yang menjabat Rais Aam pada 1984-1991 dikenal sebagai ulama intelek, berwawasan luas dan sangat akomodatif terhadap perkembangan zaman. Kiai Achmad Siddiq inilah yang merumuskan Khittah NU 26 yang kemudian berperan penting dalam penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal dalam Muktamar ke-27 NU di Situbondo.

Kiai Achmad Siddiq juga dikenal sebagai pencetus trilogi ukhuwah (tiga konsep persaudaraan) yang kemudian sangat poluler. Yaitu konsep persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan sebangsa (ukhuwah wathaniah) dan persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariah). Konsep ini tidak hanya popular di kalangan nahdliyin tapi juga menjadi referensi umat Islam Indonesia secara luas.

Nah, dari sinilah saya menilai Kiai Achmad Siddiq bukan hanya kiai atau ulama dan intelektual berwawan luas tapi juga seorang konseptor yang jenius. Maka sangat ideal dan pas ketika berduet dengan Gus Dur memimpin PBNU. Kiai Achmad Siddiq dan Gus Dur sama-sama alim, sama-sama cerdas, sama-sama jenius dan sama-sama berwawasan luas.

Kejeniusan dan intelektualitas Kiai Achmad Siddiq itu dibangun sejak nyantri di Pesantren Tebuireng. Dan ini tak lepas dari pengaruh KH Abdul Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur. Kiai Wahid Hasyim dikenal sebagai salah satu The Founding Fathers of Indonesia yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 1964 oleh Presiden Soekarno.

Saya pernah mendapat cerita dari KH Muchit Muzadi, kakak kandung KH A Hasyim Muzadi, Ketua Umum PBNU dua periode (1999–2004 dan 2004–2010).

Kiai Muchit Muzadi juga santri Tebuireng. Ia satu angkatan dengan Kiai Achmad Siddiq. Menurut Kiai Muchitz, Kiai Wahid Hasyim, putra Hadratusssyaikh KH M Hasyim Asy’ari,  mendidik secara khusus santri Tebuireng yang diproyeksikan sebagai pemimpin. Diantara santri itu adalah Kiai Achmad Siddiq dan Kiai Muchit Muzadi.

“Saya juga termasuk, tapi saya gak pinter,” ujar Kiai Muchitz Muzadi merendah.  

Kiai Muchitz Muzadi sendiri juga berkembang sebagai tokoh NU yang sangat fenomenal. Bahkan Gus Dur punya atensi khusus terhadap Kiai Muchitz. Menurut Gus Dur, Kiai Muchitz memiliki keberanian moral menyuarakan kebenaran secara obyektif, meski berbeda dari arus utama dan bahkan mendapat kritik dari kaumnya sendiri. Kiai Muchitz juga memiliki wawasan luas dan pemikiran intelektual terbuka dengan dunia luar.

Gus Dur menjuluki Kiai Muchitz Muzadi sebagai “kiai nyentrik”. Julukan itu kemudian dijadikan judul buku Gus Dur: Kiai Nyentrik Membela Pemerintah.

M. Mas'ud Adnan alumnus Pesantren Tebuireng, Stikosa-AWS dan Pascasarjana Unair. Sekarang CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.