Kepahlawanan Kiai Abbas, Internasional Akui Perang 10 November Dipimpin Mohammedan Religious Leaders

MAJALENGKA, BANGSAONLINE.com-Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, menegaskan tak akan ada istilah hari pahlawan 10 November 1945 tanpa KH Abbas Bin Abdul Djamil Buntet Cirebon Jawa Barat. Sebab Kiai Abbas itulah yang memutuskan menyerang tentara sekutu – terutama Inggris dan Belanda – pada 10 November 1945 - setelah beliau diminta Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari datang ke Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.

“Ketika Bung Tomo tanya kepada Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari, kapan kita akan menyerang, Kiai Hasyim Asy’ari menjawab: tunggu kedatangan Kiai Abbas dari Cirebon,” ujar Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim dalam seminar nasional pengusulan KH Abbas Bin Abdul Djamil sebagai pahlawan nasional di Pondok Pesantren Amanatul Ummah 02 Leuwimunding Jawa Barat, Ahad (9/8/2026).

“Kiai Abbas tiba di Tebuireng tanggal 9 November, pagi-pagi tanggal 10 November Kiai Abbas berangkat ke Surabaya bersama santri Tebuireng untuk melakukan penyerangan di Surabaya sehingga terjadi pertempuran 10 November Surabaya,” tambah putra KH Abdul Chalim, salah seorang kiai pendiri NU dan pejuang kemerdekaan yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada November 2023 oleh presiden.

Acara seminar nasional yang dimoderati M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE, itu dihadiri Bupati Majalengka Drs. H. Eman Suherman, M.M.

Juga hadir Rais Syuriah PCNU Majalengka KH Anwar Suleman, Ketua Tanfidziah PCNU Majalengka KH Muhammad Umar Sobur dan Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) serta Ketua PW Pergunu Jawa Barat Dr Saepulloh.

Menurut Kiai Asep, saat itu NU atau pesantren punya tentara swasta yaitu Hizbullah.

“Mereka siap mati seperti rakyat Iran sekarang,” ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokekerto Jawa Timur serta Pondok Pesantren Amanatul Ummah 02 Leuwimunding Majalengka Jawa Barat itu.

Kiai Asep mengungkapkan bahwa Bung Karno dan Bung Hatta awalnya menolak keputusan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari berperang secara fisik melawan tentara sekutu di Surabaya. “Alasannya, karena takut banyak korban,” ujarnya.

Bung Karno dan Bung Hatta memilih jalan diplomasi. Tapi Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari tetap memutuskan perang. Karena, dalam pandangan Hadratussyaikh, lewat jalan diplomasi bangsa Indonesia selalu dikalahkan oleh Belanda.

Kebijakan Hadratussyaikh itu disepakati Panglima Jenderal Soedirman. Menurut Kiai Asep, Jenderal Soedirman sering berkomunikasi dengan Hadratussyaikh. Bahkan beberapa kali Jenderal Soedirman datang ke Pesantren Tebuireng.

Menurut Kiai Asep, Hadratussyaikh juga punya alasan kuat dan yakin menang. “Saat itu penduduk bangsa Indonesia berjumlah 70 juta. Sedangkan penuduk Belanda hanya 5 juta, termasuk yang di Belanda,” ujarnya.

Kiai Asep menjelaskan bahwa sejarah yang ia ungkapkan itu berdasarkan hasil penelitian Prof Usep Abdul Matin, Ph.D, guru besar sejarah dan peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Prof Usep membenarkan bahwa penyerangan 10 November 1945 di Surabaya memang ditentukan oleh Kiai Abbas. Menurut Prof Usep, Kiai Abbas menetapkan hari Sabtu tanggal 10 November 1945 untuk menyerang tentara sekutu di Surabaya.

Pada Sabtu itu, tutur Prof Usep, Kiai Abbas berangkat dari Pesantren Tebuireng menjelang fajar ke Surabaya bersama para santri Tebuireng.

“Dengan memekikkan kata merdeka tiga kali, Kiai Abbas berangkat ke Surabaya naik kereta expres,” ujar Prof Usep yang alumnus University of Duke Amerika dan University of Leiden Belanda.

Menurut Prof, Usep korban perang 10 November 1945 memang banyak.
“Antara 30 ribu sampai 40 ribu orang. Berita itu dimuat The New York Times tanggal 12 November 1945,” ujar Prof Usep sembari mengatakan bahwa korban itu bergeletakan di sungai atau kali mas Surabaya, terutama dekat jembatan yang kemudian dikenal sebagai Jembatan Merah karena dalam peperangan itu penuh darah.

Menurut Prof Usep, Kiai Abbas dan pasukannya langsung menyerbu kawasan tengah kota Surabaya. Sedangkan KH Muhammad Yusuf Hasyim, putra ragil Hadratussyaih, menyerang sekutu di kawasan pinggiran Surabaya.

"Kiai Abbas menyerang ke arah tengah Surabaya. Ketahuan karena Kiai Abbas pakai surban. Hanya di Indonesia perang pakai surban," ujar Prof Usep yang juga Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pahlawan Pusat (TP2GP) sembari tertawa. 

Bung Karno dan Bung Hatta, tegas Prof Usep, akhirnya merestui keputusan yang diambil Hadratussyaikh. Apalagi prediksi Hadratusyaikh tepat dan benar. Pasukan yang dipimpin Kiai Abbas menang.

“Koordinasi antara lima tokoh, Soekarno-Hatta, Bung Tomo, Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Abbas serta sikap patriot dari pengikut-pengikut mereka dalam perang 10 November hingga 20 November 1945 telah mendapat pengakuan internasional, yaitu dari kantor berita Belanda, The Netherlansdz News Agency dan sumber-sumber Belanda (Netherlands sources),” ujar Prof Usep yang juga alumnus S3 University of Monash Australia.

“Menurut para saksi ini, perang 10 hari di bulan November 1945 tersebut bukanlah kejadian tiba-tiba, melainkan tindakan (kejadian) yang terorganisir. Perang tersebut dipimpin tanpa merasa takut mati oleh Mohammedan religious leaders (para pemimpin pengikut ajaran Nabi Muhammad/para pemimpin muslim,” tegas Prof Usep Abdul Matin sembari mengatakan bahwa Kiai Abbas dan KH Abdul Chalim juga dikenal sakti mandraguna alias memiliki kemampuan supranatural yang luar biasa.

Sementara Bupati Majalengka Eman Suherman sangat mendukung usulan Kiai Abbas sebagai pahlawan nasional. Ia juga mengapresiasi dan berterima kasih kepada Kiai Asep yang telah memperjuangkan Kiai Abbas sebagai pahlawan nasional.

Menurut dia, jumlah penduduk Jawa Barat paling banyak jumlahnya tapi paling sedikir jumlah pahlawannya yang telah ditetapkan pemerintah dibanding Jawa Timur dan Jawa Tengah.